Jahiliyah…apa itu?

Biasanya kalau mendengar kata jahiliyah, yang terpikirkan pertama kali adalah suatu suasana yang brutal dengan orang-orang kasar di daerah padang pasir di jazirah Arab. Ingat Jaahiliyah maka yang terbayang adalah zaman awal-awal tumbuhnya Islam dulu, sewaktu zaman Nabi Muhammad. Kesannya Jaahiliyah itu zaman dulu banget. Sekarang, zaman modern-zaman teknologi 3G, jadi jauh dari jaahiliyah. Benarkah begitu?

Zaman Rasul Saw dahulu, jaahiliyah dikemas secara menarik. Jahiliyah jadi trend setter. Ia diikuti oleh sebagian besar manusia. Kebanyakan orang-orang dari golongan ”the have” mempropagandakan kejahiliyahan   Aktivitas kejahilayahan mencakup hampir semua aspek kehidupan. Mulai dari menuhankan patung, status sosial, jabatan, materi sampai dengan bermabuk ria dan tidak menghargai nyawa manusia (terutama nyawa kaum lemah dan wanita). Tidak mengikuti kejahiliyahan dianggap kuno atau ketinggalan zaman. Kalau enggak ikut bermabuk ria dianggap kampungan. Itu sebabnya dakwah Islamiyah waktu itu ditentang habis-habisan. Karena, apa yang mereka anggap kesenangan itu (baca: kejahiliyahan), semua diharamkan dalam ajaran Islam. Mereka benar-benar bangga dengan kejahiliyahannya.

Mari kita tarik ke zaman modern saat ini. Adakah kejahiliyahan saat ini? Anda pasti menjawab ada. Karena kenyataannya menunjukkan seperti itu, tidak perduli kita paham makna jahiliyah atau tidak. Pokoknya kejahiliyahan itu dapat kita rasakan dan lihat. Hanya saja yang sering luput adalah, kadang kita bisanya hanya menunjuk orang lain sebagai pelaku jahiliyah. Diri kita sendiri jarang bermusahabah, apakah benar telah bersih dan meninggalkan tradisi atau gaya hidup jahiliyah. Padahal jangan-jangan orang lain juga mendeklarasikan bahwa kita berprilaku jahiliyah.

Sudah merupakan sunnatullah bahwa kondisi manusia hanya ada dua keadaan. Bila ia tidak memegang kebenaran (al-haq) maka bisa dipastikan ia berada dalam kejahiliyahan. Kalau tidak diisi kebenaran pasti keburukan yang akan mengisi. Kejahiliyahan berarti kebodohan terhadap hidayah. Manusia pasti masuk ke dalam kehidupan jaahiliyah bila ia telah berburuk sangka kepada Allah, merasa cukup, tidak perlu hidayah, sombong, mengedepankan hawa nafsu dan memegang teguh tradisi yang tidak jelas manfaat dan dalilnya.

Berburuk sangka pada Allah, sering direpresentasikan dengan banyak mengeluh. Semua tidak ada yang pas buat dia dan tidak pernah puas, akibatnya cepat marah. Hujan yang merupakan Rahmat Allah disalahkan. Begitu berganti dengan panas, tetap complaint karena terlalu menyengat dan membuat gerah. Negative thinking menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cara berpikirnya. Hati-hati, apabila kondisi ini terus terjadi secara berkesinambungan, akan terus membawa pelakunya dalam kejahiliyahan.

Seseorang yang kehidupannya sudah mapan dan terpenuhi segala keperluannya, biasanya atau kadang kala merasa sudah cukup dan enggan untuk menerima sesuatu yang baru dari orang lain. Seperti orang tua yang susah menerima masukan dari orang lain, karena merasa sudah berpengalaman dibanding mereka yang masih muda. Atau sebaliknya, orang muda susah menerima pembaharuan dari orang lain, karena khawatir kesenangannya akan terusik.

”Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,  karena dia melihat dirinya serba cukup”. (QS al Alaq (96) : 6-7)

Hati-hati dengan perasaan bahwa kita lebih baik dari orang lain. Bukankah Iblis yang sudah divonis pasti masuk neraka pernah memakai kata-kata itu. ”aku lebih baik dari Adam, ….(QS.7:12)  Pola pikir ”lebih baik” seperti itu, biasanya menyulitkan kita untuk menerima masukan dari orang lain. Dan akhirnya kita masuk dalam kesombongan jahiliyah. Bangga akan potensi diri melalui kaca mata materi dan rupa atau lahiriyah. Padahal sebaik-baiknya manusia adalah apabila dia bisa memaksimalkan potensi ketakwaannya.

Hawa nafsu memang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Dalam Islam, telah diajarkan oleh Rasulullah bahwa teknik mengendalikan hawa nafsu adalah melalui bertakwa pada Allah Swt. Begitu ketakwaan lepas, maka, pasti muncul kejahiliyahan. Hawa nafsu dijadikan Tuhan-tuhan tandingan Allah. Banyak sekali contoh-contoh aplikatif untuk ini. Demi agar masuk kerja tidak terlambat, banyak orang yang rela berangkat bekerja sebelum atau pas adzan subuh (mudah-mudahan sempet sholat subuh di rumah!). Ironisnya, ketika hari libur, ia tidak bersemangat bangun subuh untuk sholat subuh berjama’ah di masjid. Mana yang lebih dia pentingkan?  Bukankah  itu sudah berarti dia sudah membuat Tuhan tandingan! Belum lagi pola-pola men”Tuhan”kan status sosial dan gengsi yang fenomena kejahiliyahannya terlihat jelas (Insya Allah kita terlepas dari itu semua).

”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS Al Jaatsiyah (45) :23)

(lihat lanjutannya di Jahiliay…apa itu? (2)

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s