Romadhon sebagai milestone kita (2)

Ini lanjutan beberapa poin penting yang perlu kita renungkan terkait dengan aktivitas dan hikmah selama bulan Romadhon :

  • Romadhon adalah bulan bonus. Semua kebaikan yang kita lakukan mendapat reward berlipat ganda dari Allah Swt.  Do’a kita lebih berpeluang untuk dikabulkan di bulan ini. Shodaqoh kita lebih berlipat nilai kebaikannya. Apalagi, ada satu malam istimewa yang terjadi di salah satu malam pada sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon (lailatul qadr). Pada malam itu, nilai ibadah kita diberi reward lebih baik dari seribu bulan (83 tahun!). Bayangkan apabila kita bisa mendapatkan 2 lailatul qadr saja, kita laksana sudah melakukan ibadah kepada Allah Swt selama 166 tahun! Subhanallah. Ah,,bonus materi dari perusahaan yang paling-paling bisa kita nikmati beberapa tahun saja berani kita kejar habis-habisan. Kan naif sekali, kalau bonus yang sebegitu hebat dari Rajanya manusia sekaligus Penguasa alam semesta ini dilewatkan begitu saja dengan entengnya (tanpa ada niat dan usaha untuk mendapatkannya). Karena biasanya, muslim Indonesia (kita) sudah disibukkan dengan ”tradisi pulang kampung” dan persiapan lebaran!
  • Romadhon adalah momentum bagi kita untuk semakin terikat (ada ikatan emosional) dengan masjid. Sholat sunnah Tarawih berjamaah memberi peluang kepada kita untuk semakin sering mengunjungi masjid di luar sholat-2 fardhu berjama’ah. Hanya pada Romadhon kesempatan itu ada. Umat muslim berbondong-bondong menuju masjid pada malam-malam romadhon (sayangnya, kadang hanya berlangsung sampai dengan minggu ke 2 romadhon saja). Belum lagi, I’tikaf (berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah Swt) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon. I’tikaf adalah puncaknya ibadah Romadhon sekaligus puncak kedekatan kita dengan masjid. Bermalam di hotel atau resort berbintang berhari-hari itu mah biasa, bermalam (mabit) di masjid untuk I’tikaf bulan Ramadhon itu baru luar biasa.  ”Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan I’tikaf, padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat”, kata Imam Az-Zuhri. Memang tidak ditemukan adanya hadits shahih yang menceritakan tentang fadhilah I’tikaf. Tetapi, apakah tidak terbetik suatu pertanyaan, mengapa Rasul Saw begitu bersemangat melakukan i’tikaf di 10 hari terakhir Romadhon? Pasti ada sesuatu yang luar biasa di sana. Kegiatan ibadah pada saat i’tikaf antara lain berdiam diri, merenung, berdoa, memuji dan mengagungkan Allah Swt, mensyukuri nikmat Allah Swt, merasakan betapa kecilnya manusia dibanding Akbarnya Allah Swt, memohon ampunan dari Allah Swt, bershalawat untuk Nabi Saw, mendalami ilmu islam dan amalan ibadah lainnya serta menanti datangnya lailatul qadr dengan menghidupkan malam dengan berbagai ibadah. Bayangkan, menghabiskan seluruh waktu (full time) di hari-hari terakhir di bulan yang mulia hanya untuk ”benar-benar” berdekatan dengan Allah Swt. Dan semua itu dilakukan di tempat yang mulia (masjid) serta berusaha untuk sementara tidak terkontaminasi dengan segala hiruk-pikuk urusan dunia (Iya..ya,,,masak sih kita tidak bersedia mengalokasikan waktu 10 hari saja dari 365 hari yang diberikan Allah Swt untuk lebih khusus (fokus) ”taqorrub” dengan Nya). Logika kita saja pasti membenarkan bahwa: I’tikaf itu, apabila dilakukan sesuai yang dicontohkan oleh Rasul Saw, Insya Allah akan bermanfaat, bernilai dan akan memberikan pengalaman rohani yang mendalam dan dapat dijadikan salah satu modal untuk terus istiqomah bertaqwa pada Allah Swt pada 11 bulan mendatang.
  • Pelatihan intensif Ramodhon berlangsung 1 bulan nonstop. Artinya, selama satu bulan kita digembleng untuk membenahi fisik dan jiwa serta  dilatih untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan islami agar bisa menjadi seorang muslim yang taqwa kepada Allah Swt. Wah-waah-waaah, inilah sebenarnya bagian yang tersulit, karena sudah menyentuh ”comfort zone” kita, apalagi harus merubah kebiasaan. Secara alami, reaksi umum yang timbul adalah perlawanan. Sehingga hasil akhirnya mudah ditebak, tetap mempertahankan ”kenyamanan” dengan kebiasaan non islaminya atau mau dan mulai berubah menjadi seorang mukmin yang terus menjalankan kebiasaan ibadah Ramadhonnya guna mencapai derajat taqwa. Fenomena inikan jelas terlihat. Coba perhatikan awal-awal Romadhon, ”atmosfir taqwa” biasanya terlihat luar biasa. Maaf, kaum muslimah mulai memakai penutup rambut, leher dan berbusana muslimah!, jamaah sholat tarawih membludak, atribut-atribut yang berbau islam dikenakan (mulai baju koko, peci, sorban dll).  Tetapi setelah pertengahan Romadhon, banyak orang yang mulai tidak sanggup untuk ”BERUBAH” dan akhirnya mereka ”MENYERAH”, lalu kembali kepada kebiasaan lamanya yang tidak islami. Baju muslimah tidak digunakan lagi. Mulai berdalih sholat tarawih kan sunnah, sehingga tidak apa-apa kalau ditinggalkan. Menunggu subuh sambil rokok’an mumpung masih bisa merokok (lalu berdalih merokokkan makruh_ padahal para imam fiqih sepakat menyatakan bahwa makruh berarti sesuatu yang dibenci Allah Swt). Acara buka puasa bersama seolah menjadi acara wajib di bulan Romadhon dan kadang dilakukan secara ”heboh dan berlebihan” sampai-sampai mengabaikan sholat magrib, sholat Ishya dan tarawih berjamaah. Pantas saja Rasul Saw mengingatkan, bahwa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapat apa-apa kecuali hanya sekedar menahan lapar dan haus saja. Kasihan sekali,,,,,Cape’  deh.

Ibadah shaum dan pembentukan kebiasaan positif agar menjadi pribadi yang islami selama Romadhon memang sulit dan perlu kesabaran. Sehingga, pantas saja Rasulullah Saw sudah mewanti-wanti kita untuk melakukan preparation dan warming up pada bulan Rajab dan Sa’ban agar bisa sukses mengikuti seluruh sesi pelatihan intensif Romadhon nanti. Mari kita terus memohon kepada Allah Swt,  agar kita diberi kemampuan (taufik) dan kesabaran dalam melakukan semua amalan ibadah Romadhon dengan ikhlas, khusyu dan benar sesuai tuntunan dari Rasulullah Saw. Insya Allah, Romadhan kali ini, benar-benar menjadi madrasah bagi kita semua guna menjadi seorang mukmin yang terus menerus berupaya meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah Swt.

Waallahu ’alam bish showab.

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Aplikatif dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s