Ber ” elmu”

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS Al Muhadilah : 11)

Fenomena di atas sudah terlihat jelas sekali dalam kehidupan kita sehari-hari. “Kebanyakan” orang-orang yang disebut sukses biasanya orang yang ber”elmu”. Mereka terlihat lebih pintar, berpendidikan, ulet, dan seterusnya. Dan sejatinya, ber”elmu” tidak  harus dihubungkan dengan pendidikan formal. Banyak pengusaha sukses tetapi pendidikan formalnya biasa-biasa saja. Ciri mereka yang ber”elmu” terlihat jelas kok. Mereka dapat memaksimalkan potensinya untuk mengambil setiap peluang dan kesempatan yang ada. Mereka tahu, peka, sensitif dan proaktif memaknai ilmunya sebagai bekalnya.

Ber”elmu” terlihat berkorelasi positif dengan kesuksesan. Mau sukses? Ya, harus belajar untuk menimba ilmu, menerapkan dan mengajarkan/menularkan kepada orang lain. Begitu juga untuk mencari ridho dan surgaNya Allah Swt. Tanpa ilmu, manusia tidak akan mampu untuk menegakkan aturan dan syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah Swt,  yang telah didemonstrasikan dengan sangat sempurna oleh RosulNya, Muhammad Saw.

Tanpa ilmu, semua terlihat kering dan kaku. Tanpa ilmu, kita jadi ragu. Tanpa Ilmu sedikit sekali yang bisa dilakukan oleh manusia. Tanpa Ilmu, umat Islam hanya akan menjadi bulan-bulanan umat lain. Tanpa ilmu, umat islam hanya akan jadi umat follower bukan menjadi umat trend setter. Tanpa ilmu, ibadah kita jadi tidak berbobot dan hanya bernilai tambah keciiiiiil sekali. Bahkan Allah Swt telah memperingati kita mengenai hal tersebut.

“dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Israa:36).

Ada fenomena yang lucu terkait dengan “ilmu agama”. Banyak temen saya yang expert di bidang ilmu dunia, tetapi dengan ringan menjawab “saya mah orang awam dalam ilmu agama!!!!”. Ketika saya ketemu lagi beberapa waktu kemudian, dengan enteng dan polosnya, dia juga masih menjawab “saya awam dalam ilmu agama”. Terus terang saya tidak habis pikir, apakah dia memang sudah merela dirinya untuk masuk neraka dengan tidak mau sedikitpun untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran Islam.

Apakah sulit sekali belajar Islam? Apakah karena Al Qur’an dan Hadist tertulis dalam Bahasa Arab!!! Atau jangan-jangan kita sendiri yang membuat Islam jadi sulit!  Atau malah menggampangkan!  Urusan Agama itu adalah urusan ustadz atau Kyai, undang saja mereka untuk memimpin doa atau pengajian, selesai sudah urusan! …Apakah itu yang dicontohkan oleh Rosul Saw dan para sahabat?

Kalau kita baca dan pelajari kisah hidup Nabi Muhammad Saw serta para sahabat-sahabatnya, kita pasti malu hati kalau selalu merasa awam dalam ilmu Islam. Sahabat Rosul Saw sangat beragam, mulai dari yang kaya sampai miskin, mulai dari orang berpendidikan  sampai dengan hanya seorang budak. Dari yang muda belia sampai kakek-nenek. Bahkan Abu Hurairoh ra, seorang biasa-biasa saja dan masuk Islam ketika umurnya sudah 60 tahun, tetapi kerja kerasnya untuk belajar  dan mengejar ketinggalannya, telah membuahkan pemahaman yang luar biasa tentang Islam. Tengok saja, berapa banyak hadist yang diriwayatkan dari dirinya. Nah, apa pesannya? Islam adalah aplikatif dan way of life. Buktinya mereka bisa memahami dan menjalankan Islam dengan nikmat dan khusu. Mereka bisa berislam dengan baik sesuai dengan potensi dan kondisi mereka. Saking begitu aplikatifnya, sampai-sampai setiap mendengar perintah atau larangan atau ancaman dalam Al Qur’an, mereka langsung merasa bahwa perintah, larangan atau ancaman itu ditujukan untuk mereka. Banyak Sahabat yang langsung pingsan begitu mendengar ayat Al Qur’an yang menceritakan ancaman pedihnya neraka. Dan mereka tambah paham dan meningkat keimanannya. Sudah terbayang jelas oleh mereka, Panas dan pedihnya siksa neraka…dan mereka bersumpah tidak akan mau masuk ke sana. Hidup sedang dijalani dan kematian itu pasti datang. Visi mereka jelas! Selalu mencari ridho Allah Swt disetiap aktivitasnya agar mereka termasuk orang yang mendapat tempat di SurgaNya Allah Swt. Tidak ada satupun diantara mereka yang dengan bangga berucap dari tahun-ketahun, “saya awam dalam ilmu islam”. Kasihan orang yang mengaku beragama Islam, tetapi masih merasa awam dan asing dengan agamanya. Boleh awan sekarang, tetapi masak sih awam terus-terusan! Bagaimana kalau keburu mati tetapi belum sempat mengaplikasikan Islam yang berlandaskan ilmu? Ilmu adalah modal dan kunci sukses. Tanpa Ilmu berarti kehilangan momentum untuk sukses.

Mencari ilmu, lalu menjadi berilmu, menerapkan, belajar dari sana,,,lalu ajarkan ke orang lain….”Manusia yang baik adalah yang bermanfaat bagi orang lain”, tidak inginkan kita seperti itu?

Wuallahu a’lam bishowab…

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s