Berhaji, ingin ku ke sana…

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim, Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. Ali Imron : 96-97)

Membaca dan memahami makna ayat di atas sangat mudah, karena memang eksplisit sekali isinya. Umat Islam diwajibkan untuk berhaji apabila telah sanggup (mampu). Dan Allah Swt Maha Kaya, sehingga kalimat terakhir ayat ini, benar-benar menggelegar mengingatkan kita, seandainya kita dalam katagori “mampu” tetapi belum melakukannya, ya terserah…Allah tidak menjadi miskin dan tidak membutuhkan harta kita yang banyak itu (hih ngeri sekali…bahasa Al Qur’an memang luar biasa).

Bahkan jumhur ulama sepakat bahwa haji itu “Rukun Islam”, haji lebih dari sekedar kewajiban. Jangan klaim menjadi seorang Islam, apabila mampu tapi tidak berhaji (nauzubillah).

Kita semua sudah meyakini bahwa, segala sesuatu yang diwajibkan oleh Allah Swt, pasti ada “nilai kebaikan dan manfaat” bagi manusia. Nah begitu juga dengan Haji, pasti banyak sekali kebaikan di dalamnya. Dan uniknya, haji ini mempunyai nilai kebaikan dan manfaat yang berbeda-beda dari setiap pelaksananya. Rugi rasanya kalau kita belum merasakan nilai kebaikan dan manfaat haji tersebut.

Puncaknya, balasan dari haji yang mabrur adalah surga….wah…luar biasa. “Abu Hurairah ra. Berkata: Nabi saw ditanya, “Apakah amal perbuatan yang utama?, Jawab Nabi, “Iman percaya kepada Allah dan Rasulullah”, Kemudian apakah?, Nabi menjawab, “Jihad berjuang untuk menegakkan agama Allah”. Kemudian apalagi?, Haji yang mabrur” (HR Bukhari-Muslim)……Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Umrah ke umrah adalah menghapuskan dosa diantara ke duanya dan haji yang mabrur itu tiada balasannya selain surga” (HR Bukhari-Muslim)

Begitu kata-kata “berhaji jika mampu” terdengar, kebanyakan kita langsung mengasosiasikan kata “mampu” dengan sejumlah rupiah yang harus dibayarkan untuk “ongkos naik haji”. Padahal sejatinya, mampu  itu tidak hanya sekedar harta, walaupun membayar ONH memang merupakan salah satu parameter penting supaya kita berhaji. Tetapi buktinya banyak orang yang uangnya cukup untuk berhaji, masih belum juga berangkat haji. Bahkan calon haji yang sudah bayar lunaspun ada yang masih belum dapat berhaji. Apa pesannya?Banyaknya harta bukan segalanya.  Segala sesuatu terjadi dan dapat terjadi hanya apabila dikehendaki Allah Swt. (lihat, QS. At Takwir:29)

Kita sudah tahu bahwa bisikan setan selalu menghambat dan membuat kita was-was serta ragu-ragu. Begitu juga apabila kita akan berhaji. Ada saja bisikan setan yang dihembuskan ke dalam diri kita. Misalnya: AKU BUKAN ORANG KAYA. Tentu redaksional setan tidak straight forward seperti itu. Bisa jadi seperti ini, “hey, duit mu pas-pasan, buat bayar kredit mobil, rumah, dan barang lainnya ajah belum cukup. Entar aja bayar tabungan hajinya,,banyak kebutuhan yang mendesak…dua atau tiga tahun lagi ajalah daftar hajinya kalau tabungan kita sudah cukup banyak

Seandainya dari sisi uang sudah cukup, tentu setan akan ngomporin dengan “SEGUDANG ALASAN LAINNYA”. Mulai dari, “wah aku belum siap, wong sholat saja masih bolong-bolong” ; “aku belum siap untuk istiqomah setelah pulang haji nanti” ; “’aku belum siap menyandang gelar Pak Haji (emangnya  ada wisuda haji gitu??) ; “aku belum siap, bayangkan, baca Al Qur’an ajah belum bisa atau belum lancar, apa kata orang nanti” ; “aku belum di panggil oleh Allah ????!!!!” dst-dst-dst…

Sebenarnya problem terbesar terkait dengan bisikan setan ini adalah bahwa “setan tidak terlihat ketika sedang ngompor-ngomporin kita” tetapi sebaliknya, setan bisa melihat kita…ini kan seperti pertandingan bulutangkis atau futsal, tetapi mata kita ditutup dan setan sebagai musuh kita bisa melihat dengan sebebas-bebasnya,,,bisa ditebakkan siapa pemenangnya…Satu-satunya cara untuk menghadapi setan/iblis yang selalu membisikan dan mendemotivasi kita adalah hanya dengan selalu memohon perlindungan dan petunjuk dari Allah Swt. Dan Ibadah Haji adalah salah satu ibadah khusus yang Insya Allah dapat mendekatkan kita dengan Allah Swt sedekat-dekatnya. Jadi logis sekali kalau setan berusaha “pol-pol” an untuk menghambat kita beribadah haji.

Paman saya pernah cerita, bahwa khusus untuk ibadah haji niat saja tidak cukup, tetapi harus ada “hasrat yang membara”. Ini adalah suatu keinginan yang “amat sangat”, bila perlu sampai dibawa ke mimpi rasa inginnya. Insya Allah dengan rasa seperti itu akan mampu mengalahkan semua hambatan-hambatan yang dihembuskan oleh setan. Jadikan haji sebagai prioritas hidup atau impian yang harus dicapai secepatnya.

Satu lagi hal yang luar biasa dengan berhaii adalah kenikmatan yang dirasakan. Kenikmatan itu langsung dapat kita akses pada saat ibadah haji itu kita lakukan. Mantapkan! Sulit sekali menggambarkan bagaimana nikmatnya berhaji dan sekaligus menjadi Tamu Allah Swt itu. Yang jelas plooooooooooooong banget, hati ini seperti menjadi terang benderang. Wong jadi tamu “orang yang terhormat” saja enak…Bayangkan kita akan menjadi tamu Allah Swt, ketika kita beribadah haji dan sekaligus diberi kesempatan untuk menikmati semua hidangan Allah Swt. Semua rangkaian prosesi ibadah haji begitu luar biasa,,,,bayangkan beribadah bersama-sama dengan jutaan saudara seiman, dalam waktu dan tempat yang telah ditetapkan,,, kita jadi keciiiiiiiiiiiil sekali, laksana satu butir pasir dipantai yang berusaha untuk show off dalam rangka meminta dan memohon perhatian dari Allah Swt….perasaan takut akan azab Allah Swt dan perasaan harap akan ampunan, ridho dan terkabulnya ratusan doa berbaur menjadi satu

Proses yang paling fenomenal bagi saya adalah wukuf di Arafah. Wah, luar biasa,,,saya tiba di Arafah tanggal 9 Zulhijjah menjelang dzuhur (saya bermalam di Mina pada tanggal 8 Zulhijjah) dan wukuf dimulai sejak dzuhur sampai magrib,,, saya begitu takjub dengan padang Arafah dan prosesi wukuf, waktu menjadi singkat dan terasa tidak cukup untuk memuji, bersyukur dan memohon ratusan doa kepada Allah Penguasa Alam Semesta….tiba-tiba magrib dan harus berlanjut ke prosesi berikut yaitu mabit (bermalam) di muzdaliffah,,,,,di sana kita bermalam beratapkan langit yang bertabur bintang-bintang ciptaan Allah….ba’da sholat subuh lanjut ke Mina untuk lempar jumroh…terus ke Masjidil Haram untuk tawaf, Sa’i dan bercukur plontos (tahalul),,,,setelah itu kembali ke Mina sampai dengan tanggal 12/13 Zulhijjah…. Pokoknya suatu proses ibadah yang unik dan aneh tetapi luar biasa serta sangat membekas di hati serta nuikmat banget,,,itu mungkin sebabnya banyak sekali orang yang berhaji berkali-kali….tapi satu kali saja cukuplah,,,karena quota yang terbatas, masih banyak saudara-saudara kita yang akan segera berhaji…dan bagi anda yang belum berhaji, Insya Allah anda yang berikutnya menjadi tamu Allah Swt.

Wuallahu a’lam bishawab.

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s