CERDAS vs BODOH

Pujian mengenai kecerdasan atau cemoohan kebodohan kepada seseorang secara tidak sadar biasanya dilakukan dengan tidak proporsional. Coba di cek deh. Kebanyakan kita, mencap seseorang cerdas atau bodoh. Biasanya, hanya terkait dengan segela sesuatu yang berbau urusan dunia.

  • Mahasiswa yang mendapat indeks prestasi tinggi, disebut cerdas. Yang sebaliknya disebut bodoh
  • Seorang karyawan yang melejit dengan cepat karirnya di kantor biasa dipuji sebagai orang yang pinter dan pandai membaca situasi!
  • Pengusaha yang sukses, dibilang berbakat atau ulet atau tekun atau pekerja keras atau cepat membaca peluang (yang semua berkonotasi positif dan cerdas)
  • Seorang wanita karir yang sukses dan pandai membuat masakan yang enak disebut wanita yang luar biasa.
  • Pekerja yang kinerjanya buruk, dicap sebagai si pandir, biang kerok, trouble maker dan sebagainya
  • Murid yang nilai matematikanya jeblok, dicemooh sebagai si bodoh!

Di mana letak tidak proporsionalnya? Bukankah itu lumrah! Tetapi, bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

  • Apakah ukuran cerdas dan bodoh itu hanya berlaku untuk segala hal yang berbau urusan dunia saja?
  • Bagaimana dengan urusan akhirat? Apakah kita memberlakukan standar yang sama dalam menilai cerdas atau bodohnya seseorang?
  • Apakah orang yang cerdas dalam urusan dunia, secara otomatis cerdas pula ia atas urusan akhiratnya?
  • Atau sebaliknya, apakah orang yang bodoh di mata dunia, bodoh juga ia dalam urusan akhiratnya?

(Silahkan anda jawab sendiri pertanyaan-2 di atas (kalau mau!), tinggal search ayat-2 Al Quran dan Sunnah-2 Rasulullah  sebagai referensi utamanya. Alhamdulillah, saat ini kita berada di jaman serba mudah untuk mengakses 2 sumber acuan tersebut, tidak perlu minder karena belum mahir berbahasa Arab, enak kan…Sudah banyak tafsir-tafsir Al Qur’an  dan sarah (penjelasan)  hadist-hadist sahih  yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia)

Ok, yang ingin dikupas adalah varian dari 2 kata kunci di atas. Kita bisa menyusun kalimat dari dua kata ”cerdas dan bodoh” ini menjadi beberapa varian manusia. Dan bisa jadi kita berada di dalam salah satu varian tersebut. Insya Allah kita berada di dalam varian terbaik atau setidaknya berusaha menuju ke arah itu.

Cerdas urusan dunia, bodoh urusan akhirat

Mudah sekali melihat orang-orang yang cerdas dalam urusan dunia. Dia memang berhasil dalam ukuran dunianya (misalnya ukuran: materi & status sosial). Semua masalah dunia seolah terpecahkan dengan daya pikir dan kecerdasannya. Bisnis atau karirnya berhasil! Tetapi seandainya ada yang bertanya: anda siap mati besok dan menjalani kehidupan akhirat nanti? Semua kecerdasannya itu tidak dia gunakan sama sekali. Tiba-tiba ia jadi bodoh. Bukannya membuat strategi dan do something untuk hari esok (akhirat), ia malah berusaha menghindar dengan berkhayal, ”saya mah matinya masih lama, kan kualitas hidup saya di atas rata-rata!” atau ”nanti ajah kalau sudah tua saya baru mendekatkan diri pada Allah Swt dengan sedekat-dekatnya serta serius mendalami dan mempersiapkan kehidupan akhirat saya!”. ”sekarang mah, ala kadarnya dulu ajah, yang penting semua kewajibanku sebagai orang Islam sudah ku penuhi”….apa namanya ini kalau bukan bodoh alias stupid. Untuk urusan dunia, dia tidak mau pakai standar minimum, tetapi begitu masuk ke urusan akhirat eh dia jadi bodoh…..bercanda pula.

”(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.” Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”.

(QS al A’raf (7) : 51)

Cerdas urusan dunia, cerdas urusan akhirat

Kategori ini mungkin yang disinyalir dalam Al Qur’an sebagai ”umat terbaik” (khoiru umah). Umat Nabi Muhammad Saw oleh Allah Swt, di kategorikan sebagai umat terbaik (ya, Insya Allah,,termasuk kita). Kalau kita membaca sejarah para sahabat-sahabat Nabi. Kita akan menemukan sosok-sosok manusia yang cerdas dunia dan cerdas akhirat. Abu Bakar Assyidiq r.a , Umar bin Khathab r.a atau Ustman bin Affan r.a misalnya. Mereka-mereka itu adalah pengusaha-pengusaha yang sukses, punya status sosial yang tinggi di masyarakatnya, punya kekuasaan dan punya harta yang banyak di jamannya. Tetapi potensi kecerdasan mereka seimbang sekali.  Mereka tidak hanya cerdas urusan dunia. Untuk urusan akhirat, mereka tahu bagaimana cara terbaik dan dengan strategi apa supaya sukses juga di akhirat kelak.  Totalitas mereka memberdayakan otak untuk urusan dunia, mereka pakai juga ketika memikirkan urusan akhirat. Abu Bakar as-syidiq bisa dengan ringannya mensginfaqkan seluruh hartanya untuk membiayayai perang melawan kaum kafir dalam rangka menegakkan Agama Allah Swt. Umar bin Khatab r.a dengan ringannya mewakafkan seluruh kebun kurmanya, hanya karena kebun itu telah mengalihkan perhatiannya sehingga ia terlewat sholat ashar berjamaah di masjid. Ustman bin affan r.a dengan tanpa beban membagikan semua barang dagangannya secara gratis kepada umat muslim yang sedang dilanda kelaparan. Kenapa mereka bisa seperti itu, salah satunya karena mereka cerdas. Mereka tahu mana perdagangan (berbisnis) yang paling menguntungkan.

”Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”

(QS as Shaff (61) :10-11)

Bodoh urusan dunia, cerdas urusan akhirat

Ini adalah suatu fenomena yang sangat tricky. Karena ukuran dunia yang menjadi standar penilaian, kadang orang yang hartanya sedikit, sumber penghasil hartanya sedikit, status sosialnya rendah, kendaraannya hanya sepeda ontel, rumahnya hanya berlantai ubin bahkan tanah,,,disepelekan dan dianggap orang bodoh! Padahal kita tidak tahu, jangan-jangan mereka adalah sekumpulan orang cerdas urusan akhirat. Jangan-jangan mereka ahli surga. Jangan-jangan amalan mereka itu benar-benar amalan ikhlas hanya semata-mata karena Allah Swt. Jangan-jangan mereka adalah orang-orang yang sadar akan peringatan Allah Swt. bahwa kehidupan dunia hanyalah senda gurau belaka! Mari kita telaah sedikit. Dari masalah shodaqoh saja. Bukankah exposure memberi itu lebih heboh kalau yang kita berikan adalah sesuatu yang kita cintai atau hanya itu yang kita miliki atau dikala kita sedang sempit. Memberi sesuatu di kala berlimpah hampir semua orang bisa. Tetapi memberi dikala paceklik itu baru Top. Bukankah kesempatan itu lebih banyak di miliki oleh orang-orang yang ”bodoh urusan dunia” tadi! Belum lagi urusan sabar, menahan amarah dan memaafkan orang lain.

”(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS ali Imron (3) : 134)

Bodoh urusan dunia, bodoh urusan akhirat

Apa yang harus dikomentari untuk jenis orang seperti ini. Yang jelas potensi akal yang diberikan pasti tidak optimalkan, ia tidak hidup dalam fitrahnya manusia. Sengsara dunia dan sengsara akhirat, pasti rugi sekali. Pontang-panting , siang malam mencari harta dunia demi keluarga, tetapi hasilnya selalu dirasa kurang. Saking mbuletnya dengan urusan dunia, eh urusan akhiratpun tidak tersentuh sama sekali. ”boro-boro mikirin akhirat, hidup di dunia ajah saya membleh begini!!” Atau ”nyari harta haram ajah susah, apalagi yang halal!!!” Lha! Apa bedanya dengan orang kafir jadinya!  Na’uzubila min zalik.

”Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi”. (QS al Imron (3) :149)

Insya Allah kecerdasan yang ada pada diri kita, bisa kita manfaatkan maksimal dan mengantarkan kita menuju keridhoan Allah Swt.

Wuallahu a’lam bishawab.

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s