Episode Monumental

Ada satu pertanyaan yang simpel, tetapi  kalau direnungi jadi agak njimet. Pertanyaan itu adalah ”Berapa lama kita hidup? ” Simpelkan. Tapi menjawabnya bagaimana? Apakah jawabannya 60, 70 atau 80 tahun. Apakah itu jawaban yang benar? Untuk konteks hidup di dunia mungkin benar. Tetapi, bukankah Allah Subhanahu wa ta’ala telah menyatakan dalam Al Qur’an bahwa kita sebagai manusia tidak hanya hidup di dunia. Ada kehidupan lain setelah episode hidup dunia ini. Kita semua pasti sudah pernah mendengar itu dan mengimaninya.

”Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (QS al Baqarah: 28)

Hidup itu apa sih? Banyak sekali jawaban untuk ini. Bernyawa, aktif, bisa berfikir, dinamis dan lain sebagainya. Ada ciri khas dari hidupnya seorang manusia. Manusia yang hidup itu, biasanya dapat ”merasakan sesuatu”. Ia bisa senang, sedih, sakit, bahagia, sengsara, nikmat dan seterusnya. Kita yang masih hidup ini, juga dapat bereaksi atas segala sesuatu. Apabila keinginan kita dipenuhi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, kita merasa happy dan bersyukur.. Apabila menyantap makan kesukaan. Wah, mulai dari lidah sampai dengan saraf-saraf tubuh dapat merasakan cita rasa nikmatnya makanan itu. Kalau istilah Bondan Winarno, ”Mak Nyuzz”. Begitu juga sebaliknya. Bila diberi cobaan, misalnya luka yang menyebabkan berdarah dan memar karena terjatuh saja. Kita pun dapat merasakan sakit. Sakit itu terasa mulai dari bagaian tubuh yang terluka sampai dengan saraf-saraf lainpun ikut merasakan sakitnya luka tersebut.  Nyut-nyutan dan meriang.

Nah, pertanyaan selanjutnya. Apakah ciri-ciri hidup yang kita rasakan di dunia ini, juga akan sama dengan ciri-ciri hidup nanti setelah episode dunia (akhirat)? What do you think?

Kalau mati kan malah kesannya enak. Jasad orang mati tidak merasakan apa-apa lagi. Diapa-apakan tidak terasa. Disiksa sepedih apapun, anteng saja. Dikasih uang segudangpun, tetap kaku. Dihidangkan makanan yang mak nyuzz juga tetap dingin dan tak bergeming.

Tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, manusia akan dihidupkan lagi setelah kematian di dunia ini. Artinya, ciri-ciri manusia hidup (seperti apa yang dirasakan waktu hidup di dunia) tetap berlaku. Ia dapat merasakan nikmat dan ia juga dapat merasakan pedihnya suatu siksaan.

Banyak sekali ilustrasi yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Al Qur’an mengenai nikmatnya hidup di surga. Digambarkan bahwa penghuni surga itu, benar-benar hidup dan dapat merasakan kenikmatan dari segala fasilitas yang diberikan oleh Nya.  Allah Subhanahu wa ta’ala juga, menggambarkan kehidupan sisi sebaliknya. Manusia yang masuk ke dalam neraka, digambarkan bahwa ia benar-benar hidup dalam siksaan yang tiada henti. Ia benar-benar merasakan pedih dan sakitnya siksaan yang diganjar untuknya. Sampai-sampai, dinyatakan dalam Al Qur’an (an Nisaa:56) seandainya kulit penghuni neraka itu sudah rusak karena siksaan, akan segera diganti dengan kulit baru agar ia tetap merasakan kesakitan atas siksaan yang ada. (penelitian membuktikan bahwa rasa sakit ternyata hanya dapat dirasakan sebatas lapisan-lapisan kulit saja). Ok, sekarang kita lihat dulu, beberapa ilustrasi kehidupan surga dan neraka yang ada di Al Qur’an, biar kita bisa benar-benar merasakan, Bagaimana sensasi hidup di dua lingkungan yang berbeda sangat ekstrim tersebut.

”Mereka memasuki api yang sangat panas, diberi minum dari sumber air yang sangat panas dan tidak ada makanan bagi mereka selain pohon yang berduri yang tidak menggemukan dan tidak menghilangkan lapar” (QS al Gasyiyah: 4-7)

”..Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya..(QS al Maidah:119)

Nah! Berarti kematian kita di dunia ini, sejatinya, hanyalah tanda berakhirnya satu episode kehidupan yang telah diamanahkan kepada kita. Ada episode kehidupan lainnya yang telah menunggu. Allah Subhanahu wa ta’ala telah menerangkan dalam banyak ayat di Al Qur’an, bahwa hanya ada 2 pilihan tempat untuk hidup di episode setelah dunia ini. Surga atau Neraka. Nikmat senikmat-nikmatnya atau sengsara dengan siksa yang sepedih-pedihnya! Untuk itu, setiap manusia diberi misi selama episode hidup di dunia. Manusia diberi seperangkat teknologi canggih dan fasilitas (akal, hati, jiwa, fisik, alam semesta dan berbagai fasilitas lainnya) untuk bisa menganalisis, mengambil keputusan dan mensukseskan misi yang diembannya selama berada di episode hidup di dunia. Allah  telah menjelaskan secara terbuka (melalui Al Qur’an atau Sunnah rasulNya) bagaimana kiat-kiat untuk suksesnya misi dan memperoleh nikmatnya surga. Dan Allah juga telah menjelaskan apa-apa yang harus dijauhkan selama hidup di dunia agar misinya tidak berantakan. Misi gagal, di neraka nanti mereka tinggal. Jadi sangat fair sekali, manusia diberi peluang dan pilihan untuk mendapatkan surga atau neraka. Pilihan itu harus ditetapkan dan dikejar ketika manusia masih dalam episode hidup di dunia.. Hal ini menjadi sangat menarik, ketika Allah Subhanahu wa ta’ala merahasiakan, berapa lama manusia dikasih waktu untuk hidup di episode dunia. Dengan pola ini, manusia dituntut untuk benar-benar menggunakan seluruh kemampuannya secara efektif dan efisien untuk membuat strategi agar misi dari Rabbnya sukses. Bahkan sebenarnya manusia dituntut untuk selalu melakukan evaluasi (muhasabah) atas progress atau status penyelesaian misi hidupnya di dunia. Jangan sampai ia rugi. Time is out, waktu hidupnya di dunia habis secara mendadak, eh dia belum menunjukkan kinerja terbaik (the best performance) guna menyelesaikan misinya. Yang lebih parah, ketika ajal datang ia masih tidak tahu, apa misi hidupnya di dunia? Nauzubillah. Padalah, tidak ada ulangan episode hidup di dunia. Menyesal juga tidak berguna. Setiap muslim pasti sudah mengetahui bahwa episode hidup di dunia ini menjadi episode penentuan yang sangat monumental untuk menentukan kualitas hidup di episode berikutnya.

OK, Kita kembali kepertanyaan awal. Jadi, berapa lama kita hidup? Allah dan rasulNya sudah menyatakan bahwa episode hidup di dunia itu sangat sebentar sekali dibanding dengan episode hidup setelahnya. Dalam ukuran waktu manusia, ukuran hidup episode setelah dunia (akhirat) adalah ukuran waktu hidup yang sangat sulit dibayangkan. bilyunan tahun atau tak terbatas dan abadi (hanya Allah yang tahu). Bayangkan, bagaimana rasanya disiksa selama-lamanya? Disiksa selama 1 bulan saja sudah ampun-ampunan, apalagi penyiksaan yang abadi! Tetapi bayangkan juga, Bagaimana rasanya hidup bergelimang kenikmatan di surga sepanjang masa. Wah, fastastik sekali. Subhanallah.

Baik, Mari kita ulang lagi pembahasan ini secara singkat. Manusia akan hidup untuk jangka waktu yang sangat lama sekali tidak terbatas (kekal abadi) setelah episode hidup di dunia yang hanya puluhan tahun ini selesai. Kualitas kehidupan di episode abadi tersebut, ditentukan dari kinerja mereka selama diberi kesempatan hidup (yang ternyata benar-benar singkat) di episode paling monumental (episode hidup di dunia yang sedang kita jalani saat ini). Satu lagi! Manusia tidak tahu, kapan due date episode hidupnya di dunia. Artinya, manusia harus selalu dalam kondisi siap untuk mempertanggung jawabkan progress atau status penyelesaian misinya. Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai pemberi misi, akan menilai progress report tersebut. Status penyelesaian misi bagus dan memuaskan di sisi Allah,  Insya Allah, surga rewardnya. Progressnya berantakan. Wah, celaka manusia ini. Punishmentnya tidak tanggung-tanggung. Bukan PHK atau mutasi atau penjara. Tetapi tinggal untuk jangka waktu yang tak terbatas di kompleks neraka, yang penuh dengan berbagai jenis penyiksaan yang luar biasa sadis dan sakitnya. So, benar adanya bahwa sekarang ini kita sedang dalam episode yang sangat monumental dan menentukan masa depan kita. Jadi, tunggu apa lagi?

Wuallahu a’lam bishowab.

(Inspirasi dari buku ”Misi di sebuah Planet”, Husain Matla)

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s