Indahnya Al Qur’an…sayang kalau tidak dekat dengannya.

Dari biografi Rasulullah saw, kita ketahui bersama, bahwa diawal-awal dakwah Islam. Banyak sekali orang-orang kafir quraisy yang terpengaruh oleh daya magis ayat-ayat Al Qur’an. Pengaruh yang ditimbulkan bermacam-macam, tetapi pada intinya mereka tergetar hatinya apabila mendengar ayat-ayat Al Qur’an (karena mengerti bahasa Al Qur’an, yaitu bahasa Arab). Bunyi dan makna ayat-ayat itu begitu membekas di hati mereka. Mereka belum pernah mendengar untaian kalimat yang indah dan menggetarkan seperti itu sebelumnya. Bahkan diantara mereka ada yang bilang bahwa ayat Al Qur’an seperti mantera sihir. Di kala itu, syair-syair indah buatan para pujangga begitu dihormati dan berpengaruh. Dan mereka merasakan bahwa ayat-ayat Al Qur’an itu lebih dari sekedar syair-syair yang ada pada saat itu.

Pengaruh dari ayat-ayat Al Qur’an itu ada yang membawa  mereka menjadi seorang muslim. Tetapi tidak sedikit juga yang ketakutan dan malah berusaha agar orang lain tidak mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an (karena takut terpengaruh dan akhirnya menerima cahaya Islam).  Sampai-sampai mereka selalu membuat gaduh apabila ayat-ayat Al Qur’an dibacakan, agar orang tidak dapat menyimak dengan tenang dan fokus.

Contoh yang paling terkenal mengenai pengaruh ayat Al Qur’an pada seseorang adalah: masuk Islamnya Umar Ibnul Khatab r.a.  Ia begitu terkesima dengan Ayat al Qur’an yang didengarnya, dan langsung menyatakan ke islamannya.

Di sisi yang ekstrem, dikisahkan bahwa al Walid ibnul Mughirah (seorang terpelajar dan terpandang di kalangan kaum quraisy) mendengarkan beberapa ayat Al Qur’an yang hampir membuat hatinya luluh. Walaupun Walid mengakui ”kekuatan” Al Qur’an, tetapi karena takut kehilangan status sosial, harta dan anak-anaknya, Walid akhirnya membuat pernyataan yang ”nyeleneh”, bahwa al Qur’an tidak lebih dari syair-syair sihir yang menyesatkan. Tetapi tetap pelajaran yang bisa kita ambil, bahwa ayat-ayat Al Qur’an begitu menggetarkan hatinya.

Mari kita kembali ke hari ini. Marilah kita sama-sama melakukan muhasabah (evaluasi). Karena kalau diantara kita tidak saling mengingatkan dan memotivasi, siapa lagi? Kan tidak mungkin, orang-orang Non Muslim yang menyemangati kita. Dan toh, kita sudah mengaku beragama Islam. Mengapa juga kita tidak bersungguh-sungguh mempelajari dan menjalaninya. Kan kalau sesuatu dijalankan tanggung-tanggung biasanya hasilnya tidak maksimum. Tentu hukum itu juga berlaku dalam kehidupan beragama Islam kita.

Apa komentar anda mengenai, posisi  Al Qur’an dalam diri kita, kehidupan kita, keluarga kita, lingkungan kita, masjid kita dan agama kita saat ini?

Apakah getaran-getaran terhadap hati dan kulit (merinding misalnya) apabila mendengar ayat-ayat Al Qur’an di bacakan masih tetap ada?

Apakah problema bahasa (karena kita tidak mengerti bahasa Arab) menghambat kita untuk tergetar ketika mendengar Al Qur’an dibacakan?

Dan apakah kita harus pasrah dan menyerah dengan kondisi keterbelakangan ini. Kalau istilah temen saya, ”menjadi orang Islam, tetapi pasrah untuk masuk neraka”! ,,,apa bedanya dengan kaum kafir!!! Nau’zubillah.

Atau mungkin, kita yang kadang tidak sopan terhadap Al Qur’an?

–          Mungkin adab ketika membaca tidak kita patuhi? Dan tidak mau belajar pula! Kita sudah merasa puas dan cukup dengan apa yang sudah kita bisa dan tahu. Tidak ada waktu untuk belajar tentang Al Qur’an lebih dalam lagi. Belajar Al Qur’an itu urusan ustadz atau kyai? Padahal tidak ada satupun kalimat dalam Al Qur’an yang menyatakan seperti itu. Al Qur’an adalah panduan bagi seluruh manusia agar dapat hidup di dunia sesuai dengan aturan Penciptanya. Sehingga pasti Al Qur’an sudah dirancang sedemikian rupa agar mudah untuk kita baca dan pahami lalu diterapkan serta diajarkan kepada orang lain.

–          Mungkin, adab ”mendengar” ketika Al Qur’an dibacakan tidak kita patuhi?

Mohon maaf, kadang Al Qur’an hanya jadi pengisi kekosongan acara di masjid (misalnya ketika menunggu waktu sholat jum’at atau sholat fardhu lainnya). Ia disetel keras-keras dengan speaker dan terdengar sampai radius yang cukup jauh. Tetapi, apakah orang-orang yang mendengar terlihat khusyu dan serius mendengarkan? Atau malah cuek saja, ngobrol atau bercanda. Jangan-jangan yang menyetel malah memicu dosa para pendengar lain yang memang tidak siap untuk mendengarkan Al Qur’an. Karena sejatinya, adab mendengarkan Al Qur’an sudah ada aturannya.

”dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” [QS al A’raf:204].

–          Mungkin sedikit sekali porsi waktu yang kita sediakan untuk membaca, memahami, mempelajari dan merenungi Al Qur’an. Padahal sejarah mengajarkan kita. Selemah-lemahnya para sahabat Rasul, mereka membaca Al Qur’an minimal 1 juz per hari. Lha kita, sudah tidak mengerti artinya, jarang pula membacanya? Apa jadinya? Jangan-jangan berita di koran yang jadi pedoman hidup kita, karena ia lebih sering kita baca.

Apakah mulai terasa ada pekerjaan rumah, Saudara ku?

Allahu ’alam bis showab

Sumber bacaan : Al Qur’an, Syaamil ; Indahnya Al Qur’an berkisah, Sayyid Quthb ; Bagaimana berinteraksi dengan Al Qur’an, Dr. Yusuf Al Qaradhawi ;

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Aplikatif dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s