Ber “Islam” dengan Ilmu…

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Israa : 36).

ISLAM dan Ilmu merupakan dua kata yang tidak dapat dipisahkan. Wahyu pertama dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw adalah perintah membaca (iqra!). Dan kegiatan membaca sangat erat kaitannya dengan menuntut ilmu.

Kalau bicara ilmu, yang sering terlintas adalah ilmu-ilmu urusan dunia (manajemen, teknologi, sain, komputer dll). Tetapi apakah menggeluti ilmu-ilmu tersebut pasti berguna untuk kehidupan setelah mati kelak? Bisa ya bisa tidak. Jawaban Ya,  hanya bila ada ikhlas dibaliknya dan apabila ilmu-ilmu itu bermanfaat bagi dakwah menegakkan Agama Allah Swt dan kemaslahatan umat islam serta sesuai syari’at Islam. Lalu bagaimana dengan Ilmu Islam (ada yang menyebut sebagai ilmu agama!)? seberapa penting itu kita pelajari dan apa sih sebenarnya ilmu ”Islam” itu?

Semua orang yang mengaku beragama Islam pasti menjawab bahwa mempelajari ilmu Islam itu penting. Tetapi seberapa penting? Nah, itu persoalannya. Karena hal ini sudah menyangkut prioritas. Alokasi waktu yang disediakan oleh sesorang untuk belajar Islam per hari atau perminggu, itu sudah menjawab seberapa penting ia memperdalam ilmu Islam dalam daftar prioritas belajarnya. Susah dibilang sedang menuntut ilmu Islam kalau belajarnya hanya ketika mendengar khotib ceramah pada waktu sesi khutbah di sholat Jum’at.

Pertanyaan selanjutnya: apa sih sebenarnya ilmu Islam itu? Ini hanya beberapa kutipan Firman Allah Swt dalam Al Qur’an, terkait dengan ilmu Islam.

” Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya,  jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS. Ali Imron : 31-32).

”Dan ikutilah sebaik-baiknya apa yang diturunkan kepadamu (Al Qur’an) dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya (QS azZuma:55)

”(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran:138)

Sumber Ilmu Islam adalah Al Qur’an dan As Sunnah, titik. Sehingga kalau bicara belajar ilmu Islam, pada dasarnya ya,,,mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah. Bagaimana dan dari sisi mana seseorang belajar Al Qur’an dan As Sunnah?, nah di situlah timbul banyak cabang ilmu yang terspesialisasi. Tetapi yang perlu dipahami bahwa ujung-ujungnya semua ilmu harus mengacu pada 2 sumber tadi.  Dan, sebenarnya dalam Islam tidak ada pengkatagorian ilmu. Ilmu Islam adalah semua cabang ilmu yang ada. Karena Islam sendiri adalah ajaran agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Semua ilmu dari Allah Swt. Hanya saja, kadang kita tidak seimbang. Ilmu untuk urusan mencari nafkah di dunia, kita bisa benar-benar menjadi expert. Segala literatur para ahli kita baca, seminar/training kita ikuti untuk dapat banyak referensi dan meningkatkan kadar keilmuan kita. Eh, ternyata ilmu terkait dengan 2 syahadat, sholat, puasa, berdoa kepada Allah Swt atau ibadah maghdoh lainnya,  kadang kita lalai. Padahal semua ibadah maghdoh ada ilmunya. Semua itu harus kita lakukan persis sama seperti apa yang dinyatakan dalam Al Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Di luar itu tertolak (lihat Hadits Shahih dari Hadists Arba’in yang ke. 5  dan 28)*. Ngerikan! Kita merasa sudah beribadah kepada Allah Swt, eh…hanya karena tanpa ilmu (tidak sesuai tuntunan Rasulullah Saw),,,tertolak.

Entah awalnya bagaimana, fenomena yang terlihat saat ini (menurut pengamatan saya lho!), umat islam kok (mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya) sepertinya tidak serius berbekal ”ilmu islam”. Padahal, mana mungkin kita bisa berkehidupan yang islami dan memberikan ”kinerja terbaik” dalam beribadah kepada Allah tanpa adanya Ilmu. Nah, jangan-jangan, fenomena di bawah ini lebih banyak terkait dengan lemahnya ilmu Islam pada umat Islam Indonesia (kembali, mudah-mudah kita tidak termasuk?).  Ini fenomenanya:

  • Hartawan (aghnia) merasa sudah berislam dengan pol-polan (all out), kalau sudah menyumbangkan sebagian kecil hartanya untuk pembangunan masjid atau panti asuhan atau telah berkurban ”sapi jantan yang besar dan gendut” atau berhaji/umroh berkali-kali. Apakah hanya itu yang dituntut oleh seorang aghnia? Abu Bakar ra., Umar bin khathab ra, Ustman bin Affan ra. adalah para sahabat Rasul Saw yang tergolong aghnia. Sejarah mencatat bagaimana hebatnya sumbangsih beliau pada Islam…..Shubhanallah.
  • Mendalami ilmu Al Qur’an dan As Sunnah hanya jadi prioritas ke ”sekian”. Waktu untuk menuntut ilmu Islam biasanya hanya waktu-waktu sisa saja. Belajar Islam  (ikut pengajian atau taklim atau baca buku) lebih banyak sebagai ajang penambah wawasan saja. Jarang sekali ada evaluasi bagaimana efektifitas aplikasinya di lapangan kehidupan sehari-hari. Pengajian terus diikuti, tetapi akhlak mulia dan kuantitas serta kualitas beribadah kok tidak meningkat!  Padahal seharusnya tidak seperti itu. Halaqah (pengajian) yang dipimpin oleh Rasul Saw, benar-benar merubah akhlak pesertanya. Dari perilaku jahiliyah menjadi benar-benar tawadhu pada Allah SWT dan berakhlak mulia seperti yang dicontohkan oleh pemimpin pengajiannya, yaitu Rasulullah saw. Semakin sering seseorang ikut pengajian, semakin meningkat aplikasi takwanya kepada Allah SWT. Islam adalah aplikasi, bukan sekedar wacana.
  • Al Qur’an kadang diposisikan ”benar-benar” sebagai kitab suci, yang saking sucinya jarang sekali ditadaburi (dibaca dan direnungi maknanya). Al Qur’an kadang diposisikan tidak pada tempat yang seimbang. Ia hanya melulu/sekedar dibaca tanpa direnungi maknanya dan yang membaca sudah merasa puas dengan pahala membaca yang didapatnya (ada hadits shahih mengenai pahala membaca Al Qur’an).  Ketimbang mengaplikasikan perintah, larangan, perumpamaan dan kisah serta hikmah lain yang ada dalam Al Qur’an dalam tingkah laku dan sepak terjangnya sehari-hari (Padahal hadits shahih dari Aisyah ra. mengatakan: ”akhlak Rasul Saw adalah Al Qur’an”).
  • Sunnah Rasulullah Saw kadang kalah bersaing (tersingkirkan) dengan kebiasaan, adat istiadat nenek moyang/leluhur atau adab yang katanya modern yang diusung oleh kaum kafir. Budaya mempersembahkan”sesajen” untuk ”tolak bala” atau ”pencucian pusaka keramat pada hari-hari tertentu”, masih dilakukan dan sering kita lihat di televisi. Dan itu dilakukan demi melestarikan budaya peninggalan nenek moyang!!!. Perayaan ulang tahun sudah menjadi hal yang umum di kalangan umat Islam di Indonesia, Padahal tidak ada satu hadits shahihpun yang menunjukkan bahwa Rasul mencontohkan hal itu!!! Ghibah (gosip) dan fitnah sangat dilarang dalam Islam, eh….malah itu jadi santapan setiap hari umat Islam Indonesia, dan kembali lagi, seolah-olah itu hal yang biasa saja. Belum lagi hari libur kita yang sabtu dan ahad bukan hari Jum;at? Dan yang paling hebat adalah: Rencana penerapan syari’at Islam ditentang oleh para tokoh yang mengaku Islam dan itu terjadi di negara yang mayoritas pendudukan mengaku beragama islam!

Yel-yel ”Islam agamaku” sering terdengar emosional, tetapi ucapan lisan saja tidak cukup. 2 kalimat syahadat sering terdengar dan diucapkan dengan khidmat, tetapi lisan saja pasti juga tidak cukup. Bahkan beramalpun tidak cukup kalau tidak disempurnakan dengan ilmu. Islam adalah agama yang penuh dengan kebenaran, ia satu-satunya agama yang sempurna. Tetapi kebenaran dan kesempurnaan Islam hanya dapat terlihat apabila para pemeluknya dibekali dengan ilmu yang kuat dan dengan manhaj (metodologi) yang benar. Sejarah memberitahu bahwa Islam berjaya dengan kebenaran dan kesempurnaan yang terlihat jelas tatkala ilmu islam benar-benar menghujam kuat di dalam dada setiap pemeluknya. Sarana ilmu itu sebenarnya sudah plug in dalam Islam. Tata cara ibadah dalam islam telah baku dan dicontohkan oleh Rasul Saw. Akhlak mulia juga telah dicontohkan oleh Rasul Saw. Pedoman hidup telah terdokumentasi dan dijelaskan dalam Al Qur’an dan As- Sunnah. Jadi benar perkataan para ulama shalaf, ”Amal dan ilmu adalah dua tonggak yang saling terkait agar dapat berislam secara benar”.

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s