Berteman dengan MALAS…

Mengapa enak sekali bermalas-malasan? Padahal kita tahu itu tidak membawa kita kemana-mana…

Malas sudah akrab bagi kita semua (maaf saya men”generalisir”, mudah-mudahan anda tidak termasuk dalam ”kita” yang ada di dalam tulisan ini). Bahkan mungkin, malas merupakan salah satu fenomena yang bisa menimpa siapa saja. Tua-muda, miskin-kaya, di desa, di kota kadang terlihat banyak orang akrab dengan malas. Entah kenapa bermalas-malasan itu “nuikmuat” sekali, padahal saat bermalas-malas, kita tahu bahwa itu sangat tidak produktif. Tetapi tetap saja tuh, kita bermalas-malas ria.
Waktu kecil dulu, orang tua kita sudah menasehati “jangan malas nak”. Sewaktu mulai sekolah dari TK sampai perguruan tinggi, kembali diingatkan oleh guru-guru kita “jangan malas kalau mau berprestasi”. Ketika kita sudah mulai berada pada usia produktif kembali diingatkan “jangan malas kalau anda mau sukses”. Bukankah proses peng”ingat”an itu sebenarnya terjadi karena ternyata, malas itu masih datang berkunjung secara rutin ke dalam diri kita.

Malas itu apa sih sebenarnya ?
Secara singkat dan bebas, malas dapat didefinisikan sebagai berikut:: suatu aktifitas di mana kita tidak melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan karena alasan yang “tidak jelas”. Biasanya malas divisualisasikan dengan “leyeh-leyeh”, tidur-tiduran sambil ngemil dan mendengarkan musik, membaca tabloid gosip sampai ketiduran, nonton infotainment.atau bahkan diam saja tanpa melakukan sesuatu. Tiba-tiba kaget! sudah akhir bulan atau sudah tahun baru dan ia tidak beranjak ke mana-mana! Belum ada amalan terbaik yang dibuat. No improvement! Diam di tempat bahkan mundur kebelakang, sambil berceloteh bahwa ”dulu” ia pernah berprestasi hebat. Pokoknya prestasi jaman dulu tiba-tiba menjadi andalan.
Di kantoran kata “malas” sering diganti istilahnya menjadi “suntuk”…”suntuk ah, cari angin dulu neh”…atau makan siangnya ngaret dikit ah sampe jam 14.00 atau jam 15.00 !! atau korupsi jam kerja, surfing internet atau chatting, atau nyoret-nyoret kertas tanpa arah sambil melamum pula.,,ah nikmat sekali melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kita lakukan.

Malas sejenis penyakit menular!
Dengan sifatnya yang seperti itu, mungkin malas dapat dikategorikan sebagai suatu penyakit dengan tingkat potensi bahaya yang cukup tinggi, karena sifatnya yang merusak. Bukan hanya sikorban malas yang rusak, lingkungan sekitar juga bisa terkontaminasi oleh malas tersebut. Ini yang lebih berbahaya. Malas ternyata dapat menular. Cara penularannya pun tergolong canggih. Tidak seperti penyakit lain, malas dapat menyebar melalui banyak media. Mulai dari penglihatan, pembicaraan (via telpon sekalipun), penciuman, membaca, mendengar, apa lagi kalau kontak langsung dengan penderita. Modus operandi penularan malas biasanya melalui penggunaan diksi (pilihan kata) untuk menyamarkan kata malas. Misalnya dengan kalimat seperti ini, ”jangan sok alim lu, nanti ajah sholatnya”, ”rajin-rajin amat, toh gaji kita segini-gini juga”, ”sekali-sekali bolos mah engga apa-apa”, ”banyak belajar banyak lupa, jadi santai aja”, dan masih banyak ”kalimat bijak atau nasehat” sejenis lainnya. Bayangkan kalau ”nasehat-nasehat” itu termakan oleh orang lain, bukankah bisa terjadi wabah malas yang diselubungi oleh logika-logika pembenaran. Bermalas-malas tetapi merasa itu tindakan yang benar! Sikorban malas tidak sadar kalau dia sedang bermalas-malas. Apalagi kalau malas sudah merambah kepelaksanaan ibadah-ibadah islamiyah..hih ngerii… Tentu makin berat lagi tantangan dakwah para da’i untuk meng”islam”kan jamaahnya.
Penyembuhan penyakit malas ini tergolong sulit, bukan hanya karena obatnya secara fisik (tangible) tidak ada. Obat non fisikpun kadang tidak mempan. Sudah banyak ceramah-ceramah dari para ustadz yang mengingatkan dambak buruknya menjadi manusia pemalas. Sudah ada puluhan buku dan tulisan yang membahas dan mengajari supaya kita tidak terjebak menjadi manusia pemalas. Tetapi, tetep tuh. Malas masih menyerang banyak umat manusia (termasuk kaum muslim). Mungkin problemnya kebanyakan orang tidak merasa kalau dirinya terserang penyakit malas ini. Kadang kita selalu berpikir, ”oh,,,itu untuk orang lain bukan saya”. Sehingga sulit menyembuhkan penyakit ini. Sejatinya, tidak ada orang yang mau mengakui bahwa ia terserang penyakit malas. Bahkan seandainya gejala-gejala kemalasannya sudah terlihat jelaspun, tidak ada orang yang mau dicap dirinya sebagai pemalas. Apalagi mengklaim bahwa saya adalah seorang pemalas!
Hebatnya lagi, begitu penyakit malas mulai menyerang kita. Pembenaran atas kegiatan bermalas-malas akan segera dibangun. ”Curi waktu sedikit untuk leyeh-leyeh kan tidak apa-apa, masakan kerja terus!”. ”Beribadahkan sesuai kemampuan kita, kalau saya masih susah bangun untuk sholat subuh berjama’ah ya engga apa-apa kalau kesiangan sedikit, kan ada hak tubuh untuk istirahat”. Ia terus masuk ke dalam hati dan saraf kita. Organ tubuh mulai merasakan kenikmatan dengan adanya agenda bermalas-malas. Jadilah ia (malas) sebagai suatu kebutuhan, karena sejatinya, malas memang mempunyai sifat “nyandu” (adiktif). Pertama 5 menit, lalu 10 menit, lama-lama rasa malas minta waktu produktif kita makin banyak. Sampai-sampai sipemalas (kita?) tidak merasa bahwa ia sedang bermalas-malas. Atau lama-kelamaan ia menjadi sangat toleran dengan kegiatan malas-malas, karena sudah kecanduan dan susah untuk meninggalkan kenikmatan yang didapat dari bermalas ria. Dinasehati tidak terima, walaupun yang menasehatinya adalah orang-orang terdekatnya

Malas mengantar ke neraka?
Hadits ke 12 dari kumpulan 40 hadits pilihan Imam Nawawi (Hadits Arba’in) disebutkan:
”Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, ”Telah bersabda Rasulullah shalallahu ’alahi wassalam: ”sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna” (HR Tirmidzi, hadits hasan).

Dari bahasan di atas, kita tentu setuju bahwa bermalas-malas adalah sesuatu yang tidak berguna. Jadi ia juga termasuk dalam kategori hal yang harus ditinggalkan oleh seorang muslim, kalau ia menghormati dan patuh pada Nabinya. Seorang muslim yang bermalas-malas berarti ia telah merusak keislamannya. Tidak ada ajaran Allah melalui nabiNya yang memberikan ruang untuk malas. Biografi Nabi Muhammad telah mengajarkan kita. Misalnya pada perang uhud. Ketika pasukan muslimin dipukul mundur oleh pasukan kafir quraisy yang waktu itu masih dipimpin oleh Khalid bin Walid. Pasukan muslimin kocar kacir dengan kondisi fisik dan mental yang drop karena merasa kalah. Tetapi, apa yang dilakukan oleh Rasul, ketika berhasil mengumpulkan mereka. Beliau tidak memerintahkan pasukan muslimin untuk istirahat (santai-santai dulu) karena kekalahan tersebut. Beliau malah memerintahkan pasukannya untuk maju kembali dan mengejar pasukan kafir quraisy yang sedang beranjak pulang menuju Mekkah. Pasukan kafir quraisy terhentak dan tidak siap dengan serangan itu, sehingga mereka mempercepat larinya untuk segera sampai Mekkah. Sehingga, dampak kejiwaan yang dimunculkan dari peristiwa ini luar biasa. Pasukan muslim yang tadinya merasa kalah, tiba-tiba terpompa semangatnya dan merasa menang karena telah mengejar-ngejar musuh. Mereka pulang ke Madinah dengan semangat yang berbeda. Di saat itulah Rasulullah menyampaikan hikmah perang uhud dan mengevaluasi kekalahan yang terjadi. Tidak ada ruang untuk ber”malas-malas” sama sekali.
Pemicu malas pasti setan! Kanapa?. Karena, ia membawa orang untuk tidak produktif di segala hal, termasuk ibadah maghdoh. Dengan tidak produktifnya ibadah yang dilakukan oleh si pemalas, tentu akan berakibat meningkatnya akumulasi dosa sipemalas. Bahkan sampai titik tertentu dosa akibat bermalas-malas, akan meningkat secara eksponensial. Bayangkan, kalau perintah atau anjuran Rasul sudah dijawab dengan, ”malas ah, nanti aja”. Ujung-ujungnya kan, menjerusmuskan sipemalas ke dalam katagori orang yang akan masuk ke dalam Neraka. Dan bukankah itu, cita-cita setiap setan! Setan selalu mencari sebanyak-banyaknya teman di neraka. Jadi sinkron sekali, kalau Rasulullah menyatakan dalam banyak haditsnya mengenai fadhilah-fadhilah ibadah atau doa tertentu yang bertujuan untuk melindungi kita dari perangkap setan. Dan sangat logis, kalau malas terasa nikmat. Karena salah satu perangkap setan adalah menjadikan nikmat apa yang sebenarnya dosa. Ternyata malas yang kadang (atau sering!) dianggap sepele bisa menjerumuskan pelakunya untuk berteman akrab dengan setan. Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa di akhirat nanti, kita akan bersama dengan orang-orang yang kita cintai (termasuk teman akrab/qorin kita).
Semoga Allah melindungi kita semua untuk tidak berteman akrab dengan malas (baca setan).

”dan barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya”. (QS Az-Zukhruf:36)

Allahu ’alam bis showab

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s