Marah,,,,@#$%<^*!^*(?}.

Pernah marah? (pertanyaan bodoh yah). Hampir semua dari kita pernah marah. Entah kadar marahnya seperti apa atau pemicu marahnya apa. Sepertinya kita pasti pernah marah. Setuju?

Pernahkah perhatikan orang yang sedang marah?

Marah biasanya dimulai dari hati yang marah (biasa dinamakan dengan sakit hati atau hatinya terluka atau hati yang tercabik-cabik, harga diriku diinjak-injak atau jiwa yang terusik atau apapun istilahnya). Hati yang marah tersebut, memerintahkan otak dan organ tubuh untuk bereaksi lebih dari biasanya. Jantung memompa darah lebih keras, sampai-sampai detakkannya terdengar keras. Muka merah padam seperti kepiting rebus, karena tiba-tiba darah yang beredar di sekitar kepala menjadi lebih banyak. Nafas terengah-engah. Sendi-sendi tangan atau kaki bergetar. Mata melotot dan mimik muka berubah (sejujurnya, muka menjadi jelek sekali untuk dipandang). Suara tidak terkontrol, yang keluar bukan suara yang merdu, tetapi teriakan-teriakan yang histeris dan tidak enak didengar. Dan ini yang paling berbahaya: otak, pikiran atau hati kita menjadi terkunci tidak dapat digunakan dengan baik. Keputusan yang diambil pada saat sedang marah hampir bisa dipastikan itu adalah keputusan yang buruk. Tergesa-gesa, mengambil jalan pintas dan pokoknya semua kejelekan diri kita keluar untuk melengkapi paket kemarahan yang sedang terjadi. Hasilnya, sungguh luar biasa sekali. Destruksi, kerusakan atau kemungkaran terjadi dengan begitu saja dan dilakukan dengan sangat mudahnya. Si pemarah baru menyesali perbuatannya ketika semua hawa marah telah hilang. Jantung, nafas, mata dan semua organ tubuh mulai normal kembali. Saat itulah dia terheran-heran, ”kok bisa-bisanya aku berbuat seperti ini!”. Penyesalan memang selalu datang di akhir.

Itu bahasa terangnya. Secara ilmiah, marah dijelaskan kurang lebih seperti ini.
”Marah adalah aspek emosional pada manusia yang merupakan reaksi atas hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Marah mampu mempengaruhi kondisi fisiologis, meningkatkan hormon adrenalin dan cortisol. Marah bisa membangkitkan stimulus listrik pada hipothalamus yang akan menaikkan kadar adrenalin dalam darah. Terangsangnya saraf simpatik akan menyebabkan bertambah aliran darah ke kulit, organ hati, lambung dan jantung. Hormon cortisol sendiri meningkat yang akan memperlemah sistem imun dalam tubuh. Pada saat marah, terjadi konstraksi pada kurang lebih 99 otot wajah” (www.e-psikologi.com).
Hadits ke-16 dari kumpulan 40 hadits (hadits Arba’in) karya Imam Nawawi disebutkan:
”Ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Sholallahu ’alaihi wasalam, ”berilah wasiat kepadaku” Sabda Nabi sholallahu ’alaihi wasalam ”Janganlah engkau mudah marah.” Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau: ”janganlah engkau mudah marah”. (HR Bukhari)

Sabda Rasulullah sholallahu ’alaihi wasalam, bukanlah sembarang perkataan yang keluar begitu saja. Perkataan itu keluar karena adanya tuntunan langsung dari Allah Subhanahu wata’ala. ”Janganlah engkau mudah marah”, itu memberikan kesan bahwa sebenarnya manusia itu mudah sekali marah. Redaksional hadits tersebut sangat singkat, padat dan mengandung makna yang sangat dalam. ”Janganlah engkau mudah marah”, lebih sebagai suatu peringatan akan pentingnya suatu pengendalian terhadap hawa panas yang menyala-nyala di dalam hati kita. Silahkan marah, tetapi Rasul mengingatkan untuk jangan mudah marah. Marahlah untuk hal-hal yang memang membuat kita marah. Rasul tidak pernah marah untuk hal-hal yang menyangkut ego dirinya. Beliau hanya marah apabila menyangkut urusan Agama Allah yang diremehkan atau dilecehkan. Sampai-sampai ketika penaklukan Mekkah, beliau memaafkan semua kesalahan penduduk Mekkah. Padahal 10 tahun lalu, selama 13 tahun mereka melecehkan, mengejek, menyakiti, hendak membunuh dan mengusir beliau. Janganlah engkau mudah marah, pemahaman atas kalimat ini juga yang diterapkan dengan sangat baik oleh para sahabat dan tabi’in serta generasi awal Islam. Pada waktu itu, banyak orang masuk Islam dikarenakan demontrasi yang sangat baik dari hadist Rasul ini. Marah hanya karena Allah!

Diriwayatkan, dalam suatu perang, Ali bin Abi Talib ra, berhasil menjatuhkan seorang musuhnya, ketika ia hendak menebas pedangnya, orang tersebut meludahi dirinya dan mengenai mukanya. Spontan ia tidak jadi menebaskan pedangnya. Musuhnya heran dan bertanya, ”mengapa kau tidak jadi membunuhku?”. Alipun menjawab, ”engkau meludahi mukaku dan itu membuat aku marah, dan aku tidak mau membunuh karena kemarahan ku ini. Aku hanya membunuh karena Allah” . Sang musuhpun masuk Islam.

Mengumbar marah itu mudah dan biasa. Menahan marah itu baru sulit. dan luar biasa.
Menjadi pemarah, itu juga biasa dan sudah banyak orang seperti itu.
Susah menjadi marah itu baru top dan hanya sedikit orang yang ahli.
Kita biasanya tidak mudah marah kepada orang lain apalagi atasan atau boss bisa (karena takut!), tetapi bisakah kita juga tidak mudah marah terhadap anak buah kita, istri/suami kita dan anak-anak kita? Kalau bisa, nah itu baru top markotop.
Menyaksikan orang yang marah itu mudah, setel berita di statision tv mana saja, pasti ketemu. Atau pergi ke jalan raya, sebentar saja kita sudah menyaksikan orang yang marah. Mencari orang yang tidak mudah marah? Jangan-jangan mereka sudah menjadi kaum minoritas.

Gaya hidup sekarang sangat kondusif sekali mendorong terjadinya kemarahan, sampai-sampai marah sudah menjadi bagian dari rutinitas harian. Sulit sekali untuk tidak marah, sama sulitnya (langka) dengan mencari orang yang tidak mudah marah. Padahal, pasti nikmat sekali kalau hati dan jiwa ini bisa menghindar dari siksaan api amarah. Memang tidak mudah, bahkan sulit. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak bisa melakukannya. Generasi Islam jaman dulu saja bisa. Masak sih, kita yang konon katanya lebih berpendidikan dan berpengatahuan tentu juga bisa, Insya Allah. Mari kita hidupkan hadist Rasul ini, agar budaya tidak mudah marah tidak punah di tengah-tengah umat terbaik ini. Semoga Allah selalu membimbing kita untuk tidak mudah marah, amin

Allahu ’alam bis showab

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Aplikatif dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s