Memotivasi Anak…

”Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu” QS At Tahrim : 6.

“Perintahlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat ketika dia berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila sampai berusia sepuluh tahun dia tetap enggan mengerjakan shalat”. (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Baihaqi).

Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad saw: “Ya Rasulullah, apakah hak anakkku dariku?” Nabi menjawab:”Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tampat yang baik.”

Semua orang tua pasti menginginkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang ke arah yang positif dengan akhlak mulia dan menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah serta diharapkan sukses di hari depannya. Untuk itu banyak yang sudah dilakukan. Menyekolahkan mereka di sekolah terbaik, memberikan kursus-kursus tambahan, mengikuti TPA, dan berbagai macam kegiatan yang positif lainnya.

Terkait untuk mendidik anak-anak agar menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah, tentu bukan perkara mudah. Pendidikan dan informasi positif yang kita atau sekolah berikan, langsung diimbangi oleh informasi negatif dengan media yang sangat menarik dan beragam sekali. Acara TV, komik, novel, koran dan pergaulan serta lingkungan adalah sumber-sumber informasi yang dapat memberi input positif atau negatif pada anak-anak kita. Kalau dipikirkan, kadang segalanya terlihat kompeks dan uncontrollable.

Beberapa tahun terakhir, saya coba cari format dan informasi dari berbagai sumber, mengenai bagaimana cara yang efektif untuk mendidik anak-anak kita agar mereka bisa berkembang dan tumbuh dalam koridor-koridor Islam. Nah ini, beberapa tips yang mungkin bermanfaat buat anda.

1. Kita Lakukan dahulu, setelah itu, baru minta anak mengerjakannya.

Anda ingin anak anda rajin membaca buku, rajin baca Al Qur’an, Sholat tepat waktu dan berjama’ah? Berbagai literature mengajarkan saya, bahwa cara yang paling efektif adalah memberikan contoh pada mereka. Lakukan saja yang ingin anak anda lakukan secara konsisten. Kalau anda sering membaca Al Qur’an di depan mereka secara istiqomah, lama-lama mereka akan meniru. Kalau anda sering terdengar dan menghafal surat-surat dalam Al Qur’an, Insya Allah anak-anak anda akan meniru. Kalau anda terus istiqomah sholat tepat waktu dan berjamaah di masjid, Insya Allah anak-anak anda akan tergerak ikut melakukannya. Ayah adalah figure idola untuk anak-anak kita. Sebagai figure idola, tentu mereka akan meniru kebiasaan dan kegiatan kita. Anak-anak adalah peniru ulung! Jangan melarang anak nonton TV, ketika anda sedang asyik nonton TV. Jangan suruh anak mandi pagi, padahal anda belum mandi!…Anak-anak akan bingung!…konsistenlah.

2. Berikan pujian dan insentif (hadiah) untuk setiap keberhasilan.

Semua orang senang kalau keberhasilannya dihargai. Begitu juga anak-anak kita. Begitu mereka mulai tergerak, berikan tantangan kepada mereka. Saya pernah menchallange anak-anak saya, kalau mereka bisa sholat subuh di masjid selama 30 hari full tanpa terputus akan mendapat sesuatu yang memang mereka inginkan. Wah, saya surprise. Ternyata mereka semangat sekali. Mereka menemukan solusi untuk mendapatkan barang yang diidamkannya. Membangunkan mereka untuk sholat subuh, cukup dengan beberapa panggilan pelan saja eh sudah bangun. Setelah terbiasa satu bulan secara continue, Alhamdulillah akhirnya, jam biologis mereka sudah bekerja. Mudah sekali bangun untuk sholat subuh. Begitu juga kebiasaan membaca buku dan Al Qur’an. Saya tantang mereka dengan target-target yang kuantitatif. Satu buku perbulan atau 1 halaman Al Qur’an perhari selama satu bulan full. Begitu berhasil, kita rayakan dengan makan malam di luar, sembari memberi kata sanjungan untuk hasil kerja keras mereka dan tentunya ditambah dengan hadiah seperti yang telah disepakati. Subhanallah,,,saya belajar banyak dan ikut semangat…Toh sejatinya, kita juga perlu set target-target untuk mengevaluasi kemajuan hidup kita kan?

3. Ajak diskusi dengan gembira dan santai

Semua orang senang apabila dianggap/diperhitungkan. Anak-anak pasti senang kalau diajak diskusi untuk mengambil suatu keputusan. Saya sering meminta pendapat mereka untuk suatu masalah-masalah yang ringan. Saya & istri suka meminta pendapat anak-anak dalam menata rumah, menentukan tempat liburan, sampai jadwal dan tugas piket kebersihan rumah. Alhamdulillah, sepertinya mereka antusias dan komit dengan keputusan yang diambil dengan cara urun rembuk seperti itu. Nah, dari proses ini, kita bisa meminta pendapat mereka, mengenai hal-hal tertentu yang mempunyai dampak negatif pada kehidupan mereka kelak. Misalnya, kami di rumah semua sepakat untuk tidak menonton sinetron dan acara gosip di televisi. Itu dihasilkan setelah kami mendiskusikan untung ruginya menonton acara-acara tersebut. Semua memang perlu proses, tetapi ternyata anak-anak sangat termotivasi kalau dilibatkan secara aktif dalam proses tersebut. Kadang saya memanfaatkan momentum ketika jalan kaki pulang dari masjid, untuk mendiskusikan hal-hal ringan, seperti pahalanya orang yang jalan menuju masjid, pentingnya belajar dan istiqomah dan lain-lain. Pokoknya dilakukan dengan fun dan anggap mereka sebagai teman.

Mungkin masih banyak lagi, cara-cara lain yang lebih efektif untuk mendidik anak dalam keluarga. Yang jelas kita yakin bahwa pendidikan dan penanaman “kebiasaan positif dan islami” semenjak dini akan lebih baik dari pada terlambat kelak. Insya Allah tulisan ini bermanfaat.

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Aplikatif dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s