Menyongsong Kematian

Apakah anda pernah berdiskusi dengan teman-teman mengenai kematian? Seandainya pernah, seberapa sering anda berdiskusi mengenai hal tersebut? …..Rasa-rasanya sih jarang yah.
Temen saya bilang, ”Jangankan mendiskusikan, mendengar kata mati atau kematian saja, seperti ada perasaan atau sesuatu yang menyeramkan deh!”. ”Kematian, pokoknya lebih baik jangan dibicarakan deh”, begitu kesimpulannya.
Padahal, apakah kita bisa menghidar dari kematian? Jawabnya pasti ”tidak”.
”Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati” (QS 3:185)
Realitasnya, kadang kematian kita sikapi seperti ada tetapi tidak ada. Nyata tetapi tidak nyata! Lho kok! Maksudnya apa? Kematian sebenarnya berada di tengah-tengah kita, tapi ia seolah-olah tidak menghampiri kita. Karena yang kita hadapi saat ini adalah, bahwa yang mati itu orang lain. Bukan anda atau saya! Sehingga seolah-olah, kita masih jauh dari kematian. Walaupun sekali lagi, semua orang sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja. Saudara atau teman atau tetangga meninggal dunia, tetapi pelajaran dari kematian itu terasa biasa saja. Kesannya, selagi yang meninggal dunia itu orang lain. Bukan kita! Ya,,,,terus saja kita lalai dan terlena pada dunia….dan merasa kematian masih jauuuuuuuuuuh. Tobatnya nanti saja, berislam dengan seriusnya nanti saja. Sehingga apabila disuruh membayangkan kematian? ”Belum terbayang deh. Belum pernah ngerasain mati sih!!!”
Semua orangpun sadar, bahwa hidup ini sebenarnya sedang menyongsong kematian. Didiskusikan atau tidak. Takut dibayangkan atau tidak. Kematian itu sedang menunggu dan ia akan datang pada kita disuatu waktu yang telah ditentukan. Sang Malaikat Maut pasti datang merenggut nyawa kita. Ia bisa datang kapan saja. Ketika sedang bercanda dengan anak kita atau tatkala sedang sedih. Ketika sedang di puncak karir atau sedang bangkrut. Ketika sedang sehat atau sakit. Ia tidak memiliki hati, sehingga setiap rengekan, rintihan atau kata-kata manis, tidak mempengaruhi dia untuk datang. Ia tidak bisa disuap, oleh seluruh harta kita sekalipun. Apa yang ia inginkan sudah jelas. Ia menginginkan kematian. Ia menginginkan nyawa kita, karena memang itulah tugasnya.
Nah, mungkin, waktu itu (ketika malaikan maut itu datang), baru deh kita ngeh (sadar), bahwa yang mati berikutnya adalah anda atau saya. Bukan orang lain! Nah lo!
”Katakanlah, ”Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Rabbmulah kamu akan dikembalikan”” (QS. As Sajdah:11)

Kalau sudah seperti itu, mungkin baru deh datang penyesalan dan berandai-andai. ”Tolong tangguhkan kematianku”. ”Aku akan menuntaskan misi hidupku di dunia”. ”Aku akan ber Islam secara kaffah”. ”Aku akan bersedekah, aku akan selalu sholat berjamaah, aku akan membayar zakat sesuai ukurannya, aku akan membela Agama Allah, aku akan hidup sesuai Al Qur’an dan Sunnah Rasul dan seterusnya”. Dan sebenarnya semua orang juga tahu bahwa penyesalan selalu datang terakhir dan biasanya tiada berguna.
Akhir episodepun bisa dibayangkan. Mati dalam keadaan belum siap. Ngaku Islam tetapi gaya hidup dan perilaku tidak islami bahkan tidak mau tahu islam itu apa sebenarnya?, serta belum sempat memberikan potensi terbaik kepada Agama Allah. Na’uzubillah. Wah, akibatnya ngeri sekali. Banyak sekali ayat Al Qur’an yang menceritakan pedihnya azab Allah untuk golongan orang seperti itu. Siksaan yang pasti menyakitkan sekali
Kematian orang lain, seharusnya benar-benar menjadikan pelajaran bagi kita yang masih hidup. Itu sebabnya sunnah Rasul mengajarkan kita untuk ikut mengantarkan jenazah sampai di liang kubur. Agar terbuka mata hati kita, bahwa yang akan dikubur berikutnya adalah kita. Sudahkah kita mulai berhitung dan berbekal untuk kematian nanti? Allah sudah menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa kehidupan setelah kematian itu pasti ada. Bagaimana mempersiapkan bekal agar kehidupan itu sukses pun sudah ada manual dan prosedurnya! Akal sebagai alat berfikir sudah terpasang sempurna dalam diri kita. Jadi tunggu apa lagi? Mumpung masih hidup neh…..jangan tunggu mati baru action. Telat man.
Ngeri juga yah, membahas mengenai kematian. Tetapi, karena itu pasti akan kita hadapi, tidak ada salahnya kan?. Toh itu sebenarnya hanya mengenai kematian seorang manusia, hanya saja yang mati adalah diri kita sendiri. Saya yakin sudah banyak himbauan, peringatan atau teguran agar kita memetik pelajaran (ibroh) dari kematian. Insya Allah tulisan ini, kembali lagi jadi pemicu agar hati kita yang kadang keras ini menjadi terus melembut agar dapat menerima hidayah Allah. Yang pada akhirnya, kita dapat memberikan seluruh potensi terbaik untuk tegaknya Kalimatullah di muka bumi ini. Kita bisa menjalani seluruh peran kita selama hidup ini sesuai dengan Al Qur’an dan As- Sunnah. Dan akhirnya, Insya Allah kita meninggalkan dunia dengan memperoleh ridho Allah Subhanahu Wata’ala, Amin.
Selamat menyongsong kematian.
“Sering-seringlah mengingat-ingat sang penghancur kenikmatan, yaitu kematian” (HR At Tirmidzi).
Waallahu ’alam bis showab.

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Menyongsong Kematian

  1. Maren Kitatau berkata:

    “Apakah anda pernah berdiskusi dengan teman-teman mengenai kematian? Seandainya pernah, seberapa sering anda berdiskusi mengenai hal tersebut? …..Rasa-rasanya sih jarang yah.”

    Emang jarang dan enggan orang mendalami rencana matinya.
    Kami sedang mendiskusikannya atau mengancer-ancernya,
    Gima sih mati yg keren gitu!

    Salam Kenal!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s