The Greatest Passive Income…

Istilah passive income mulai banyak dibicarakan orang setelah Robert T. Kiyosaki, seorang warga negara Amerika keturunan Jepang menulis buku best sellernya “Rich dad, poor dad”. Di dalam buku tersebut, Kiyosaki menggambarkan bahwa passive income adalah pendapatan yang didapatkan oleh seseorang dengan cara yang pasif (belum tentu hasil kerja fisik). Istilah dia adalah “biarkan uang yang bekerja untuk kita (bukan kita yang bekerja untuk mendapatkan uang!). Pola ini sebenarnya sudah dipraktekkan oleh banyak orang sebelumnya, seperti mempunyai rumah kontrakan atau deposito. Lantas, mengapa bukunya Kiyosaki menjadi best seller? Kiyosaki dalam bukunya berhasil menggugah paradigma orang mengenai konsep passive income. Mempunyai Passive income oleh kiyosaki ditempatkan sebagai prioritas utama bukan prioritas kesekian. Sementara itu, pendapat umum di masyarakat, orang akan cenderung mencari kerja yang mapan untuk mendapatkan penghasilan yang mapan pula (aktif income), baru nanti, apabila sudah memasuki usia tertentu mulai memikirkan bagaimana agar ia bisa mendapatkan passive income. Apakah itu melalui dana pensiun, memulai membuka usaha, deposito dan lain-lain. Pokoknya, ada kesan, mendapatkan passive income itu bukan pendapatan yang bisa didapat oleh masyarakat umum biasa, ia hanya milik segelintir orang (pengusaha, anak orang kaya atau pejabat). Itu sebabnya dalam dekade terakhir ini, setiap ada propaganda untuk mendapatkan passive income banyak sekali diminati orang. Mulai dari money game, multi level marketing, network marketing, franchising, investasi agribisnis, properti dan lain-lain. Artinya, konsep passive income itu sangat menarik dan menggiurkan! Bagaimana tidak, pendapatan itu akan terus mengalir walaupun kita tidak aktif lagi di dalamnya.

Nah, itukan urusan income untuk urusan materi di dunia. Sementara, kalau bicara dunia, yah pasti hanya sebatas nyawa kita saja, atau nyawa anak cucu kita saja!

Pertanyaannya, adakah upaya di dunia ini, yang mampu memberikan passive income yang tidak terputus karena kematian??? Artinya, kita terus mendapatkan ”income” walaupun kita sudah meninggal dunia !!!
Kabar baiknya, ternyata itu ada !!! bahkan income yang dimaksud bukan hanya sebatas ”materi” dunia. Income itu berupa nilai kebaikan (pahala). Sehingga semakin besar nilai kebaikan yang kita dapatkan, peluang kita untuk menikmati surganya Allah subhanahu wata’ala akan semakin besar. Bukan itu (baca: nilai kebaikan/pahala) juga kita kejar ketika kita hidup di dunia kan!!

Ada 3 hadits shahih yang sangat menarik untuk ditadaburi dan diimplementasikan dalam upaya mendapatkan the greatest pasive income tersebut.

”Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal, yaitu shodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang bermanfaat bagi orang lain dan anak yang mendoakannya”
(HR Muslim)

Hadits ini sudah populer dan sering diucapkan oleh para ustadz atau khatib ketika sholat jum’at. Maksud hadits ini pun sangat jelas. Perbanyaklah ketiga amal tersebut kalau kita menginginkan passive income setelah kematian kita nanti.

Shodaqoh jariyah pasti bukan hal yang sulit. Harta yang kita miliki hanya amanah dari Allah, jadi mengapa harus berat dan pelit untuk bershodaqoh. Al Qur’an telah memberikan pedoman kepada umat Islam, bagian harta untuk shodaqoh dan kepada siapa shodaqoh sebaiknya didistribusikan. (lihat QS Al Baqarah : 177 & 219)

Amalan kedua dari hadits ini sejatinya memberi perintah kepada umat Islam (siapapun itu), untuk menuntut ilmu, belajar, membaca, training, sekolah atau aktivitas lainnya agar menjadi umat yang berilmu (tidak bodoh). Sudah menjadi sunnahtullah bahwa orang berilmulah yang menguasai peradaban! Dan sudah menjadi aksioma dasar pula, bahwa ”Memberi tidak bisa dilakukan kalau kita tidak punya sesuatu yang akan diberi”. Bagaimana bisa memberi pelajaran dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain, kalau kita sendiri tidak memiliki ilmu. Apa yang mau kita ajarkan! Ilmu apa yang harus kita pelajari? Semua ilmu yang bermanfaat bagi orang lain dan membantunya untuk tunduk dan beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. (lihat QS al Mujaadilah (58) :11)

Amalan ketiga seharusnya sudah menjadi goal bagi setiap keluarga muslim. Mencetak anak-anak yang sholeh, taat pada Allah dan rasulNya dengan kualitas iman yang prima dan pemahaman terhadap agama yang baik. Pemilihan lingkungan pendidikan yang islami memang memberi kontribusi yang positif. Tetapi jumhur pakar psikologi anak tetap mengklaim bahwa lingkungan keluargalah yang lebih membentuk ”anak kita”. Lingkungan keluarga yang islami lebih memberi pengaruh terbesar membentuk anak sholeh dibanding lingkungan lainnya. Susah dibayangkan efektifitasnya apabila anak dikejar-kejar untuk sholat fardhu di sekolah tetapi di rumah bapak atau ibunya masih bolong-bolong sholatnya! Sekolah menyuruh anak tilawah Al Qur’an atau hapal surah juz 30, tetapi mereka jarang melihat orang tuanya tilawah Al Qur’an di rumah! Anak ingin dibudayakan berpola hidup sehat tetapi orang tuanya perokok! Esensinya, hadits ini memerintahkan kita untuk mencetak generasi umat islam terbaik, bahkan yang lebih baik dari generasi orang tuanya. Sulit dibayangkan bagaimana mungkin mereka mau mendoakan orang tuanya kelak kalau kita tidak mendidik dan membina mereka menjadi anak yang sholeh. (Lihat QS Luqman (31) : 13 & 16)

”Barang siapa mengajak kepada petunjuk Allah, maka ia akan mendapat pahala yang sama seperti jumlah pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun oleh pahala mereka” (HR Muslim)

Wow!, bukankah ini suatu proyek yang layak kita kerjakan habis-habisan sepanjang umur kita di dunia. Ini yang namanya hidup efektif dan efisien. Hadits ini memberikan peluang kepada semua umat Islam untuk men”generate passive income”nya. Tidak perlu titel ustadz atau da’i atau kyai. Semua muslim bisa menjadi jalan hidayah bagi orang lain. Tidak perlu menunggu jadi ahli fiqih atau syari’at. Bukankah Rasulullah sholallahu ’alaihi wassalam telah bersabda ”sampaikan dariku walau hanya satu ayat” (HR Bukhari). Syeik Abdullah bin Abdul Aziz al Aidan berkata ” Bayangkah wahai saudaraku, seorang manusia saja yang anda seru kepada Allah, kemudian dia menjadi baik dan istiqomah lewat usahamu. Saat dia sholat malam dan anda tidur, dia berpuasa sunnah dan anda berbuka, dia berhaji dan anda di tanah air. Tetapi pahalanya mengalir kepada anda sebagaimana pahala yang dia terima. Dan bayangkan, bagaimana kalau lebih dari satu orang yang anda menjadi jalan hidayah bagi mereka! Subhanallah”.

Hadits ketiga lebih memotivasi lagi, karena langsung ditunjukkan apa kira-kira reward yang diterima, oleh orang yang berhasil meng”islam”kan orang lain.
”Jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantara dirimu, maka itu lebih baik bagimu dari pada engkau memiliki unta merah” (HR Bukhari)

Unta merah pada masa itu, mungkin kelasnya kurang lebih sama dengan BMW seri 7 saat ini. Allah Swt menjanjikan rewardnya melebihi dari kendaraan terbaik dan termahal yang ada saat ini, bagi mereka yang mau kerja keras untuk membuat orang lain kembali ke jalan yang diridhai Allah! Konsep reward seperti ini sering dipakai oleh perusahaan MLM untuk memotivasi anggotanya, dan itu biasanya berhasil dan membuat para anggotanya habis-habisan kerja keras untuk mendapatkannya. Nah! Masakan umat Islam (baca: kita) tidak terpacu semangatnya dengan reward yang diberikan oleh Allah, Penguasa Langit dan Bumi. Bayangkan!, Rewardnya lebih dari sekedar kendaraan terbaik dan termahal saat ini atau bahkan lebih dari sekedar paket liburan termahal yang ada! (lihat QS Ali Imron (3) : 104)

Wuallahu a’lam bishawab.

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Aplikatif dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke The Greatest Passive Income…

  1. ihsan berkata:

    Subhanallaah.. sangat menggugah….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s