Apa yang anda anggap PENTING?

Penting atau tidak pentingnya sesuatu, biasanya tergantung pada seberapa jauh dampaknya hal tersebut bagi hajat hidup orang tersebut. Misalnya, belajar mati-matian dianggap tidak terlalu penting oleh seorang mahasiswa yang orang tuanya konglomerat. Mendapat nilai ala kadarnya asal lulus sudah cukup, toh dia akan mewarisi kerajaan bisnis bapaknya. Tetapi lain ceritanya, kalau seorang mahasiswa tersebut adalah anak orang biasa-biasa saja. Dia berkeyakinan nilai yang bagus serta lulus ”cum laude” berarti pekerjaan mapan dan kehidupan yang lebih baik. Belajar habis-habisan jadi tahapan yang penting bagi dia. Si mahasiswa yang disebut terakhir ini, pasti rela berkorban. Dia pasti punya skala prioritas yang jelas. Mana kegiatan yang bernilai tambah untuk cita-citanya dan mana yang tidak. Dia sadar dan yakin bahwa kualitas kehidupannya setelah episode kuliahnya selesai sangat ditentukan oleh hasil kerja keras dan belajarnya yang direpresentasikan dengan nilai-nilai di transkripnya.
Bagaimana pendapat anda mengenai ilustrasi di atas?,,,,setuju?
Sekarang coba kita refleksikan ke dalam kehidupan kita di dunia. Kita berani membanting tulang bekerja mencari uang (harta), pergi subuh pulang isya, meninggalkan anak & istri dan begitu terus selama berpuluh-puluh tahun sampai nyawa tercabut. Pertanyaannya, kenapa itu kita lakukan?,…karena hidup di dunia yang berkecukupan kita anggap penting! Atau karena menafkahi keluarga itu merupakan hal yang penting! Atau mungkin karena jawaban lainnya. Terserah, tetapi yang pasti ujung-ujungnya terkait dengan ”sesuatu yang anda anggap penting”. Jadi, sepertinya suatu hipotesis yang benar. Meyakini sesuatu menjadi ”penting” itu signifikan sekali pengaruhnya dalam rangka memotivasi sesorang untuk fight or all out (habis-habisan) mengeluarkan potensinya untuk meraih kepentingannya tersebut. Hal ini klop dengan apa yang dikatakan oleh John Dewey (seorang filsuf dari Amerika Serikat) ”desakan yang paling dalam pada sifat dasar manusia adalah hasrat menjadi penting”. Dale Carnegie, sang motivator ulung juga mengatakan bahwa ”hasrat untuk menjadi penting adalah salah satu perbedaan nyata antara manusia dengan binatang”.
Nah, sekarang mengenai kehidupan setelah mati kita. Pentingkah itu untuk diusahakan secara habis-habisan?…dan biasanya kita akan menjawab ”pentiiiiiiiiiiiing”. Tapi, Seberapa pentingkah itu?. Wah ini pertanyaan yang sulit, dan tidak bisa dijawab begitu saja. Tetapi mungkin jawabnya harus dengan pertanyaan lagi. Seberapa yakin anda pada Hari Pembalasan itu? Siksa Neraka? Nikmatnya Surga? ……….Harusnya 100% .
Nah, kalau kita sudah yakin 100%, seharusnya tidak ada yang ingin kehidupan kekal di akhirat nanti, berada di Neraka dong (Banyak ayat Al Qur’an yang menceritakan pedihnya siksaan di neraka). Logikanya, semua manusia ingin masuk Surga yang full kenikmatan itu.
Kita semua sudah tahu pula bahwa tidak ada makan siang gratis, we must fight to get it. Tidak mungkin surga bisa didapat dengan santai-santai saja tanpa kerja keras. Kerja di dunia sudah memberi pelajaran masalah itu. Allah SWT sudah menjelaskan bahwa Rewards (penghargaan) di akhirat nanti (atas apa yang kita lakukan di dunia ini) hanya ada dua kok. Masuk Surga atau neraka!
“segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka” (QS asy Syura:7)

Nah, untuk kehidupan di dunia saja kita berani banting tulang untuk menjadi atau terlihat penting. Apakah kita tidak ingin juga “menjadi penting” di kehidupan setelah mati nanti?
Sekarang mari kita bayangkan….
Anda pasti menjadi orang yang benar-benar mulia (lebih dari sekerdar penting) kalau sampai anda berada di kompleks ”Surga-Nya Allah Subhanahu wata’ala”. Anda jadi manusia terpilih dari milyaran penduduk bumi,,,,sudah terbayang “tingkat pentingnya”.
No pain no gain. Ingat, sobat untuk kenikmatan hidup di dunia saja, kita harus mendapatkannya dengan kerja keras, banting tulang, keringat bercucuran, pergi pagi pulang tengah malam, terus dan terus selama hayat dikandung badan. Nah! Apalagi untuk mendapatkan kenikmatan yang luar biasa dan hakiki di surganya Allah,,,,sudah terbayangkan apa yang harus kita lakukan? Mungkin, sindiran oleh Yahya bin Mu’adz* bisa mengena…
• Mengharap ampunan dari Allah, tetapi terus menerus melakukan dosa tanpa penyesalan
• Merasa dekat Allah, tetapi tidak melakukan ketaatan
• Menunggu tanaman surga, tetapi selalu menyemai benih amalan neraka
• Mencari istana orang-orang yang taat, tetapi selalu berbuat maksiat
• Menanti pahala, tetapi tidak mau beramal
• Mendambakan Kasih sayang Allah, tetapi selalu melanggar ketentuanNya.

Semoga Allah Swt, selalu memberikan hidayahnya kepada kita semua….Amin.

Waallahu ’alam bish showab.

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s