Terbesit…

Pernahkah terbesit dalam hati, sudah berapa lama kita beragama Islam?
Sudah berapa rakaat sholat yang telah kita lakukan?
Setelah melakukan sholat sebanyak itu (menurut ukuran kita!), Apakah ada perubahan dalam hati ini? Menjadi lebih baik atau lebih tenang atau lebih sejuk misalnya?

Tetapi, kenyataan di lapangan, ”Saya sudah sholat, tetapi kok perbuatan tidak baik (dosa) masih dengan mudah dilakukan dan terjadi begitu saja!”. sampai-sampai terbesit dalam hati, ”Benarkah sholat mencegah perbuatan keji dan munkar?”. Mungkin pada waktu sholat iya,,,tetapi setelah selesai sholat?

Belum lagi bicara masalah kenikmatan. Susah mau bilang bahwa sholat itu nikmat sekali!
Heran deh, kok ada perasaan beraaaat banget kalau mau sholat. Apalagi kalau harus tepat waktu dan berjamaah di masjid! Apalagi Khusu’ dalam sholat, itukok seperti menjadi jauuuuuuuuuuuh sekali, seolah olah tidak terjangkau!

Pernahkah terbesit dalam hati,
 Mengapa kita tidak bisa menikmati sholat, seperti nikmatnya waktu menjalankan hobi kita?
 Mengapa kita tidak bisa fokus ketika sholat, seperti fokusnya waktu berada depan monitor komputer ketika sedang menyelesaikan pekerjaan (baca: urusan dunia)?
 Mengapa lebih enak nonton sepakbola di TV atau ngobrol santai dengan teman dari pada sholat?

Banyak sekali pertanyaan ”mengapa” seputar sholat (yang sebenarnya, ia hanya berupa beberapa kalimat bacaan dan gerakan itu!). Pernahkah terbesit dalam hati, Ada misteri apakah dibalik sholat? sehingga begitu berat menjalankannya dan susah dinikmati pula. Seandainya dijalankan pun, tak terasa nikmat seperti nikmatnya kegiatan-kegiatan berbau ”kenikmatan dunia” yang biasa dilakukan. Padahal, bukankah sholat adalah hal pertama yang dihisab? Ia adalah pintu gerbang semua amal perbuatan.

Rasulullah Sholallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda, ”setiap perbuatan itu tergantung niatnya dan setiap orang hanya mendapat sesuai niatnya” (HR Bukhari & Muslim). Artinya, niat punya nilai yang sangat penting dalam Islam. Kita semua menyadari bahwa ”niat yang sebenarnya” adalah dari dalam hati. Mengeraskan niat melalui lisan untuk satu pekerjaan, biasanya dilakukan untuk lebih mengafirmasikan diri, agar timbul keyakinan yang lebih dalam (David J Schwartz). Tetapi tetap, kuncinya adalah niat yang ada di dalam hati. Niat tersebut seharusnya tercermin mulai dari awal perbuatan sampai dengan akhir perbuatan bahkan mungkin lebih lama lagi (Abu Sangkan).

Mudah sekali melihat perwujudan niat. Misalnya, ada salesman yang menawarkan dagangannya dengan loyo dan tidak antusias. Orang biasanya bilang, ”wah orang itu enggak niat banget jualannya!”. Sebaliknya, salesman yang berbicara dengan sangat antusias serta dengan product knowledge dan people skill yang baik. Terbesit dalam hati ”Waaah, niat banget jualannya!”.

Nah!, pernahkah kita mereview niat. Terutama dalam hal beribadah mahdhoh, sholat misalnya. Apakah yang mendasari niat sholat kita? karena ”kebutuhan” atau ”keharusan”? Benarkah sholat yang kita lakukan karena ungkapan syukur kepada Allah Subhanahu wata ’ala? Apakah kita sudah benar-benar menjadikan sholat sebagai ajang untuk berkomunikasi, menyerahkan dan menggantungkan semua harapan kepada Allah Pencipta Alam Semesta Yang Maha Berkuasa, Maha Pengasih, Maha Mengetahui dan Maha Pengampun?
Atau, jangan-jangan….

Setan telah bermain di sana! Sholat dilakukan hanya karena ia adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. Legaaaa rasanya kalau sudah selesai melaksanakan sholat. Sholat dilakukan terburu-buru dan diakhir waktu, hanya demi melepaskan kewajiban!. Bahayanya, bila hal ini dilakukan terus menerus dapat menyebabkan sholat terlaksana tetapi sebenarnya ia dilakukan secara tidak sadar (otomatis saja karena sudah menjadi kabiasaan dan kewajiban belaka). Alam bawah sadar akan merangkai suatu kalimat (baca: niat) dengan redaksional kurang lebih seperti ini misalnya, ”hey sholat ashar dong, hukumnya wajib tahu! sudah sore neh. Entar keburu magrib lho!”. Berhenti bekerja sebentar, berwudhu dengan cepat (fast wudhu) dan segera selesaikan kewajiban sholat tersebut (fast sholat). Anehnya, walaupun di awal sholat, niat dilafadzkan, bahwa sholat ini dilakukan karena Allah Ta’ala!. Kok nyaris tidak berguna! Sholat tetap kering kerontang dan tidak merubah diri menjadi lebih baik. Buktinya, dosa demi dosa tetap saja dengan mudah dilakukan. Kadang pembelaan datang, ”bukankah manusia tak luput dari dosa!” Ah…dasar setan, selalu saja ia menemukan pembenaran yang terlihat pas oleh akal manusia.

Bukankah dengan manajemen niat yang seperti itu, kalau dianalogikan, pe-sholat tersebut, persis seperti salesman yang menawarkan dagangannya dengan loyo dan tidak antusias?
Yang penting produk sudah ditawarkan kepada calon pembeli!
Yang penting kewajiban sholat sudah dilakukan!
Apakah mungkin dengan mengelola niat dan pemicu sholat seperti ini, dapat memberi dampak yang positif bagi hati? Apakah dengan cara itu, sholat bisa dinikmati, seperti nikmatnya menonton DVD?

Bagaimana? Apakah fenomena ini pernah anda alami? (mudah-mudahan tidak).

Karena niat berasal dari dalam hati, mungkin apabila manajemen hatinya baik, Insya Allah niatnya akan ter”manage” dengan baik pula.

Subhanallah, seandainya umat Islam (baca: kita) mau belajar dan lebih mendalami agamanya. Ternyata Islam adalah agama yang fokus untuk menggembleng hati manusia. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa bila hati bisa ditundukkan dan terkendali, maka seluruhnya bisa terkendali. Termasuk mata, telinga, langkah, mulut, dan ide-ide dan niat. Wesss pokoknya semua aman terkendali, apabila hati terkendali. Coba ditelaah lebih seksama, bukankah semua ibadah mahdhoh umat Islam sejatinya adalah ibadah untuk menggembleng hati,
 Sholat yang benar-benar ”benar” (syar’i), Insya Allah mengembleng hati untuk tunduk, patuh, pasrah kepada Allah Subhanahu wata’ala dan tidak larut kepada kesibukan dunia. atau
 Puasa yang syar’i, hati ini ditraining untuk tidak menuruti hawa nafsu dasar manusia yang cenderung merusak (seperti: makan, minum, seks, bergunjing dll). atau
 Zakat yang syar’i, hati ini digembleng untuk tidak terlalu cinta dunia (harta) dan peka terhadap penderitaan orang lain. atau
 Haji yang Syar’i, hati ini digembleng secara total untuk tunduk dan patuh pada aturan dan hukum Allah, walaupun aturan dan hukum itu terasa aneh untuk akal manusia yang terbatas ini.

Dan ternyata, itulah fitrah manusia, ”hati yang bersih”. Mempunyai hati yang bermutu, bersih dan terkendali itulah dambaan setiap manusia dan itu pula sebenarnya esensi dari Taqwa (yaitu: seseorang bisa dengan mudah dan enjoy melakukan perbuatan yang baik (perintah Allah & rasulNya) dan mencegah perbuatan yang buruk (larangan Allah dan rasulNya)).

Rasulullah Saw pernah bersadba, ”Dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati” (HR Bukhari-Muslim)
Kata Qalb (hati) disebutkan 131 kali dalam Al Qur’an. Tentu bukan tanpa makna dan maksud, Allah Subhanahu wata’ala sampai mengulang-ulang kata qalb tersebut sebanyak itu.

Berikut salah satu firman Allah Subhanahu wata’ala yang sangat fenomenal dan pasti benar mengenai ”hati”,
”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”. QS Ar Ra’d (13) : 28

Jadi sepertinya, segala ”kebosanan” (baca: tidak bisanya menikmati) beribadah yang kadang kala menyerang, jangan-jangan disebabkan kelengahan kita dalam mengelola hati. Niat ikhlas untuk beribadah semata-mata karena Allah Ta’ala belum menancapkan kuat dalam hati.

Pasti tidak ada salahnya apabila masing-masing kita mulai meninjau dan belajar untuk menetapkan niat yang terbaik (benar-benar karena kebutuhan untuk beribadah kepada Allah Swt). Tidak hanya sekedar gerakan fisik dan tidak hanya sekedar ngejar setoran atau tidak hanya sekedar pembuktian sebagai seseorang yang beragama Islam. Kasihan jiwa dan fisik ini, capek dibuatnya.

Pasti tidak mudah sholat (dan amal ibadah lainnya) dengan hati dan niat terbaik. Perlu ilmu, latihan, strategi, kerja keras dan harus istiqomah pula. Bayangkan, untuk menjadi top management di tempat kerja saja perlu itu semua. Kan naif sekali, kalau menginginkan surganya Allah yang seluas langit dan bumi itu, tetapi yang kita lakukan ala kadarnya. Cita-citanya masuk surga tetapi pengen nya hal itu dicapai tanpa belajar, tanpa kerja keras, tanpa pengorbanan, boleh asal-asalan, boleh semau gue….pernahkan terbesit, ”kadang untuk urusan akhirat kok kita menjadi bodoh yah”…

Ternyata banyak yang belum kita ketahui tentang islam……….
Wallahu a’lam bishshawab

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s