Kok susah yah…

”Ingat mati saja susah, apalagi membayangkan kehidupan setelah kematian”, begitu teman saya berpendapat, ketika saya menanyakan pendapatnya mengenai kehidupan setelah kematian. ”Kita tahu ada surga dan neraka, tetapi hati ini kok sepertinya cuek aja”, tambahnya. Padahal kalau dipikir-pikir kurang apa. Dari kecil kita sudah dikenalkan dasyatnya siksa neraka dan indahnya surga. Tetapi.,………

Apakah ibrah (pelajaran) dari cerita-cerita itu masih membekas pada diri kita sekarang ini? Seandainya jawaban kita, ya. Apakah bayangan takutnya siksa neraka terpantul dalam tingkah laku kita? Atau, apakah kita sudah berani mengorbankan sesuatu yang berharga demi mendapatkan kenikmatan surga?

Surga itu fantastik. Semua hal yang ternikmat dan terindah ada di sana. Sampai-sampai, kadang banyak orang mengasosiasikan kenikmatan dunia yang dia rasakan dengan berucap ”hmmm,,nikmatnya bagaikan di surga?”…masak sih? Kayak tahu saja!

Neraka juga tak kalah fantastiknya, hanya dari sisi kebalikannya. ”Disiksa bagai di neraka”, itu ungkapan yang sering kita dengar. Padahal, siksa neraka berlipat-lipat pedihnya dibanding siksa terberat yang ada di dunia!

Logikanya kalau sudah tahu surga dan neraka, kita akan buat persiapan dong.
”Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hasyr:18)

Itu logikanya, kenyataannya bagaimana menurut anda?

Sebodoh-bodohnya orang (padahal orang tidak bodoh lho!), dia pasti akan berusaha habis-habisan untuk menghindari dari bencana. Dan ia juga akan berusaha habis-habisan untuk mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan. Buktinya banyak orang yang bekerja habis-habisan demi mendapatkan ”sesuatu yang dia yakini akan membuat dia bahagia di dunia”. Dan Banyak pula orang yang berani mengeluarkan banyak uang untuk melindungi dirinya dari bahaya. Nah kalau untuk urusan dunia saja seperti itu. Masak sih logika berfikir ini tidak dipakai untuk urusan yang lebih besar lagi, yaitu urusan akhirat. Urusan hidup setelah kita mati nanti.

Saya menduga, bahwa hanya sekedar mengetahui apa itu surga dan neraka. ternyata, tidak cukup untuk menggerakkan kita untuk membuat suatu rencana kegiatan (action plan) dan strategi. Kita perlu sesuatu yang dapat menggerakkan. Sesuatu itu lebih dari sekedar mengetahui tentunya. Juga, lebih dari sekedar percaya adanya surga dan neraka.

Apa dong?………………….. Iman, itu jawabannya!
Apakah iman akan menancap kuat hanya dengan menghapal rukun iman? Jawabnya pasti tidak. Iman harus dikejar, dipelajari dan terus dipupuk agar tumbuh subur dan terpantul dalam amal harian. Kita perlu terus memutar siklus belajar, praktek dan mengajarkan untuk mencapai standar keimanan dan keislaman yang sebenarnya. Alhamdulillah, Islam adalah Dien yang jelas dan terang benderang, sampai-sampai standar keimanan yang terlihat abstrakpun menjadi jelas. Sejelas apa? Pelajarilah Firman-firman Allah SWT dalam Al Qur’an mengenai Iman. Pelajari juga sunnah-sunnah Rasulullah Saw mengenai iman. Insya Allah, kejelasan akan muncul. Mau tahu aplikasinya seperti apa? Pelajari riwayat hidup Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya pada generasi awal umat Islam. Itulah standar iman dan Islam yang harus dijadikan benchmark bagi kita semua.

Wuallahu ’alam bish showab

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s