Sholat Berjamaah, luar biasa !!!

Anda sering sholat fardhu berjamaah di masjid yang berbeda?
Adakah pemandangan umum yang tertangkap tatkala sholat berjamaah di berbagai masjid tersebut?
Mudah-mudahan pemandangan yang saya lihat tidak sama dengan anda. Saya hampir selalu menemukan beberapa hal yang sama ketika sholat fardhu berjamaah di beberapa masjid yang berbeda. Pemandangan tersebut adalah:
1. Barisan makmum (shaf nya) tidak rapat dan rapi.
2. Beberapa, bahkan kadang sebagaian besar makmum mendahului atau berbarengan dengan gerakan sholat sang imam.

Terlintas dalam benak saya, apakah ada yang salah? Mengapa kesalahan-kesalahan seperti di atas terjadi begitu merata di banyak masjid (menurut pengamatan saya)? Padahal kalau bicara mahzab, setahu saya, tata cara sholat berjamaah dari mahzab yang 4 itu, tidak satupun yang membenarkan dua keadaan di atas. Atau, apakah tata cara sholat berjamaah yang sesuai sunnah Rasul shalallahu ’alaihi wassalam tidak cukup disosialisasi kepada kebanyakan umat muslim? Ataukah ada sebab lain? Allah lah yang Maha Tahu. Saya tidak bermaksud mengajari anda, tetapi sekedar sharing saja. Bukankah kita diwajibkan untuk saling nasehat-menasehati dalam kebenaran.

Kerapihan, kelurusan dan kerapatan barisan makmum ketika sholat berjamaah adalah suatu aturan umum dan baku. Sampai-sampai merupakan suatu kewajiban bagi imam sholat untuk mengingatkan dan memastikan jamaahnya sudah rapi dan lurus dahulu, sebelum ia memulai prosesi sholat. Bila perlu ia menginspeksi dulu barisan-barisan jamaahnya, minimal barisan pertama. Ada banyak hadits dari Rasulullah shalallahu ’alaihi wassalam terkait dengan hal ini. Diantaranya:

”Diriwayatkan dari Anas r.a. ”Nabi saw, menghadap ke arah kami sebelum bertakbir dan bersabda, ”Rapatkanlah barisanmu dan ratakan!” (HR Bukhari & Muslim)

”Ratakanlah shafmu sebab sesungguhnya meratakan shaf itu termasuk kesempurnaan sholat” (HR Bukhari & Muslim).

Rasulullah saw bersabda, ’ratakanlah shaf mu, rapatkan bahu-bahumu, lunakkan tangan jika berdampingan dengan saudara-saudaramu dan tutuplah celah-celah shaf itu, karena sesungguhnya setan itu memasuki celah-celah itu tak ubahnya bagai anak kambing kecil” (HR Ahmad & Thabrani)

Diriwayatkan oleh Nu’man Ibn Basyir. Suatu ketika Nabi saw pernah melihat dada seseorang lebih condong ke depan dari barisannya, Beliau saw menegur, ”Luruskan barisan kalian, kalau tidak Allah akan menimbulkan perpecahan di antara sesama mu” (HR Ibnu Majjah)

Dari empat hadits di atas, pasti sudah cukup untuk jadi peringatan, betapa pentingnya barisan sholat yang lurus, rapi dan rapat. Bayangkan, bagaimana mungkin sholat berjamaah akan sempurna kalau tidak rata, rapi dan lurus. Dilihat secara kasat mata saja tidak enak. Sholat berjamaah, tetapi barisannya bengkok dan renggang. Sepertinya, itu merepresentasikan suasana jamaah yang tidak kompak, tidak harmonis dan amburadul. Mungkinkah umat Islam bisa bersatu padu kompak dan solid, kalau dari hal kerapihan dan kerapatan barisan sholat berjamaah saja tidak bisa diaplikasikan. Padahal Rasul sudah menjelaskan, celah dalam barisan sholat pasti diisi oleh setan dan itu akan menyebabkan perpecahan. Kebenaran dari apa yang disabdakan oleh Rasul sepertinya memang terjadi kan! Banyak umat islam sibuk mengerahkan seluruh potensi terbaiknya bukan untuk memerangi musuh-musuh Islam yang memang sudah nyata (orang kafir), tetapi malah untuk gontok-gontokan sesama muslim!
Standar kelurusan dan kerapatan dari hadits di atas adalah bahu para makmum lurus dan rapat serta telapak kaki mereka saling berdempetan. Sehingga benar-benar tidak ada celah sedikitpun yang bisa dimasuki oleh setan. Bukankah kita semua sudah tahu bahwa kumpulan (jamaah) yang kuat adalah kumpulan yang rapat, rapi dan saling mengikat satu dengan lain. Melunakkan tangan untuk bersedia berdampingan erat dengan saudara sesama muslim. Subhanallah.

Permasalahan kedua adalah gerakan sholat makmum yang tidak mengikuti imam. Gerakan makmum tidak mengikuti imam ini dapat berupa:
 Makmum mendahului imam
 Makmum berbarengan dengan imam
 Makmum terlalu terlambat dari imam
Yang sering terjadi adalah makmum mendahului atau berbarengan dengan imam. Padahal kalau kita membaca Hadits Rasul saw, yang benar adalah makmum menunggu sejenak sampai imam telah sempurna gerakan sholatnya, baru makmum mengikuti. DR Daud Rasyid memberikan contoh, misalnya ketika hendak sujud. Makmum harus membiarkan dahulu sampai imam sujud, baru makmum mengikuti gerakan sujud. Patokan lain yang dapat digunakan adalah: makmum mulai bergerak hanya apabila imam sudah selesai mengucapkan kata ”bar” pada saat ia mengucapkan takbir, ”Allaahu akbar” sebagai aba-aba perpindahan gerakan sholat.

Al Bara Ibn Aziz menceritakan bagaimana para sahabat dahulu sholat di belakang Nabi saw. ”Apabila Nabi saw telah mengatakan ’Sami’allahu liman hamidah’, kemudian bergerak turun sujud, tak seorangpun di antara kami yang menundukkan punggungnya, sehingga Nabi saw betul-betul bersujud, kemudian kamipun turun sujud ke tanah” (HR Bukhari).

”Apakah kalian yang mengangkat kepalanya lebih dahulu dari imam, tidak merasa takut kalau kepalanya diganti Allah dengan kepala keledai atau bentuknya dirubah menjadi bentuk keledai?” (HR Bukhari)

Sesungguhnya imam itu ditunjuk untuk diikuti. Bila ia mengangkat takbiratul ihram, bertakbirlah kalian, jangan kalian bertakbir sebelum ia mengangkat takbir. Bila ia ruku’, ruku’ lah kalian dan jangan kalian ruku’ sebelum ia ruku’. Bila ia mengatakan ’sami’allahu liman hamidah’ katakanlah ’Allahumma Rabbana walakal hamd”’. Bila ia sujud, sujudlah kalian dan jangan kalian sujud sebelum ia sujud” (HR Abu Daud, Bukhari & Muslim)

Selamat memakmurkan masjid dengan selalu berusaha untuk sholat berjamaah di Masjid dan sesuai dengan tata cara yang diajarkan oleh Rasul shalallahu ’alaihi wassalam..
”Sholat berjamaah itu lebih utama dari pada sholat sendirian sebanyak 27derajat” (HR Bukhari & Muslim).
Bayangkan 27 KALI LIPAT! Ingat kita tidak tahu pengalinya berapa. Bayangkan kalau pengalinya 7 milyar! Pasti berbeda jauh antara 7 milyar dengan 189 milyar. Bukankah sangat tidak bijaksana (baca: bodoh) kalau kita tidak memanfaatkan fasilitas yang luar biasa dari Allah Subhanahu wata’ala ini.
Waallahu ’alam bis showab.

Bahan bacaan : ”Fiqih Sunnah” Jilid 1, Sayyid Sabiq & ”Panduan Praktis Sholat Berjamaah”, DR. Daud Rasyid

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Aplikatif, Sebaiknya anda tahu dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s