Zakat…apa itu?

Kita sering mendengar bahwa zakat adalah salah satu sistem ekonomi islam untuk mengentaskan kemiskinan. Tetapi pernah terbayangkah oleh kita, bagaimana itu bisa terjadi?
Kenyataan di lapangan lebih banyak menunjukkan kebalikannya. Jumlah harta dari zakat yang dibagikan kepada orang yang berhak (terutama fakir dan miskin) paling-paling hanya cukup untuk hidup mereka paling lama 1 bulan (ini juga sudah top banget). Nah, 11 bulan berikutnya bagaimana?,,,kembali mengemis?,,,kembali berpuasa karena terpaksa?,,,kembali bergelut dengan kemiskinan?..jadinya, yang terlihat bahwa harta dari zakat hanya laksana beberapa butir pil untuk penghilang rasa sakit sesaat, bukan suatu tindakan penyembuhan yang menumpas penyakit sampai ke akar-akarnya.

Jadi sejatinya, berapa bagian harta zakat yang harus diberikan kepada fakir/miskin?
Dan, Bagaimana pola zakat yang dapat mengentaskan kemiskinan?
Ini pertanyaan yang selalu timbul dibenak saya? Bagaimana dengan anda?

Said Hawwa dalam bukunya ”Al-Islam” , mengupas hal ini sesuai pendapat para imam fiqih yang empat itu. Secara ringkas penjelasannya kurang lebih sebagai berikut:

1. Imam Syafi’i berpendapat ”Si fakir/miskin harus mendapat bagian harta zakat sesuai dengan kadar yang cukup untuk mencabut kefakirannya. Besaran itu adalah sebesar yang bisa mencukupi kebutuhannya secara permanen sehingga ia tidak lagi membutuhkan harta zakat untuk kedua kalinya”,,,landasan yang digunakan adalah Hadist Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Qabishah bin Mukhariq al Hilali r.a.
”Bahwasanya meminta (bagian zakat) tidak boleh kecuali karena adanya salah satu dari tiga perkara, yaitu seseorang yang menanggung tanggungan, maka boleh baginya meminta (sedekah) sehingga ia bisa membayar tanggungan tersebut. Kedua, seseorang yang terkena suatu bencana yang membinasakan harta bendanya, maka boleh baginya meminta (bagian sedekah) sehingga ia mendapatkan apa yang bisa mencukup kebutuhan hidupnya. Ketiga, seseorang yang terkena kefakiran, dengan syarat ada tiga orang pemuka kaumnya yang berdiri dan berkata (sebagai saksi), ’benar, si Fulan telah terkena kefakiran’, maka boleh baginya meminta (bagian sedekah) sehingga ia mendapatkan apa yang bisa memenuhi kebutuhannya. Adapun jika meminta karena selain dari tiga hal tersebut, maka harta yang didapatnya dari permintaan itu adalah harta haram yang dimakan oleh seseorang dengan cara yang bathil”” (HR Muslim)

Dicontohkan: Si fakir/miskin mempunyai keahlian (pernah berprofesi) sebagai penjahit atau tukang kayu atau profesi lainnya, maka ia akan diberi kadar (harta zakat) yang cukup untuk membeli alat-alat yang diperlukan untuk menjalankan profesinya tersebut. Atau singkatnya seseorang diberi modal untuk berusaha sesuai apa yang dibisa dan mau.
Pendapat ini juga merupakan pendapat dari Imam Ahmad dan ImamHambali. Yang secara umum mereka berpendapat, ”Jika kalian memberi , maka jadikanlah mereka hidup dalam kecukupan dengan pemberikan kalian tadi”.

2. Imam Maliki berpendapat, ”Si fakir atau si miskin diberi harta zakat dengan kadar yang bisa mencukupi kehidupan mereka dalam satu tahun”.
Alasan mahzab ini adalah: satu tahun dijadikan patokan seseorang untuk menyimpan cadangan kebutuhan hidupnya, seperti yang dijelaskan dalam hadist shahih Bukhari dan Muslim, ”Rasulullah Saw menyimpan kebutuhan hidup bagi keluarganya yang bisa mencukupi selama masa setahun”. Alasan kedua adalah bahwa harta zakat sifatnya tahunan, jadi tidak ada alasan untuk memberi mereka kadar yang bisa mencukupi kebutuhan seumur hidupnya. Tidak ada batasan berapa besar yang harus diberi, tergantung kebutuhan hidup satu tahun di daerah tempat tinggal si fakir atau si miskin tersebut.

Dua perbedaan mengenai besaran harta zakat dari dua mahzab ini, tidak substansial. Kedua nya bisa diaplikasikan dengan kondisi yang berbeda. Misalnya untuk jenis fakir/miskin yang mempunyai keahlian. Pendapat mahzab yang pertama lebih cocok. Diberikan modal kerja supaya mereka bisa produktif dan mempunyai sumber penghasilan. Syukur-syukur dengan bantuan non finansial (misalnya, asistensi management/marketing dll) dari umat muslim lainnya. Beberapa tahun kemudian mereka sudah bisa berubah status menjadi pembayar zakat. Pendapat mahzab yang kedua, mungkin lebih cocok diaplikasikan untuk kondisi fakir/miskin yang non skill (orang cacat/berpenyakit menahun, lansia, janda-2 tua, anak-2 dll). Kadar harta zakat yang diberikan berdasarkan kebutuhan untuk biaya hidup selama setahun. Dan mungkin teknis pemberiannya bisa bulanan untuk menghindari penggunaan yang tidak proporsional.

Nah! Mulai terlihat sekarang apa target sesungguhnya yang ingin dicapai oleh Islam melalui sistem zakat ini. Zakat bukanlah hanya bertujuan memberi si fakir dan miskin beberapa puluh ribu rupiah saja atau beberapa kilogram beras saja. Tetapi lebih dari itu. Islam ingin menciptakan kehidupan yang layak bagi pemeluknya (umat manusia). Kehidupan yang layak itu adalah terpenuhinya kebutuhan pokok dalam hidup ini. (misalnya: sandang, pangan dan papan). Kebutuhan pokok lainnya yang penting saat ini adalah pendidikan untuk anak-anak umat muslim. Karena kebodohan adalah kematian secara moral. Dan satu lagi kebutuhan pokok untuk hidup layak adalah terpenuhinya perawatan dan pengobatan apabila ada golongan fakir/miskin sakit.

Terbayang sudah sekarang, berapa harta zakat yang dibutuhkan!
Terbayang sudah sekarang, betapa pentingnya membayar zakat!
Terbayang sudah sekarang, mengapa ada begitu banyak jenis zakat!
Terbayang sudah sekarang, pentingnya mengelola harta zakat secara profesional!

Menurut Said Hawwa, dalam Islam masalah siapa yang berhak dan berapa kadar harta zakat yang akan diberikan merupakan hal yang sangat penting (prioritas utama). Dibandingkan dengan dapat dari mana harta zakat tersebut. Mengumpulkan harta zakat itu hal yang relatif mudah. Karena begitu banyak sindiran dan perintah di Al Qur’an yang menyerukan untuk membayar zakat (yang biasanya disandingkan dengan perintah mendirikan Sholat), kalau kita ingin menjadi orang yang beriman, sholeh dan masuk surga.

Insya Allah, kita selalu diberi kekuatan untuk membayar zakat sesuai kadar harta yang dititipi Allah ke dalam harta kita.

Wallahu a’lam bishowab

*
Fakir adalah sesorang yang membutuhkan tetapi tidak mau meminta-minta kepada orang lain.
Miskin adalah seseorang yang membutuhkan dan ia meminta-minta kepada orang lain.
(menurut Said Hawwa, jumhur ulama berpendapat dalam pembagian harta zakat prioritaskan orang fakir terlebih dahulu baru orang miskin)

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif, Sebaiknya anda tahu dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s