Stop & Think…

Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, siapakah orang yang paling cerdas dan paling bijaksana. Beliau bersabda, ” Yang paling banyak ingat pada kematian dan paling banyak mempersiapkan diri menjemput kematian adalah orang yang paling cerdas. Mereka pergi membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat” (HR. Ibnu Abi Dunya dan At Thabrani).

Sementara definisi cerdas dan bijaksananya kita, mungkin jauh berbeda dengan apa yang dinyatakan oleh Rasul Shollallahu ‘alaihi wasallam. Ukuran cerdas dan bijaksananya kita kadang sebatas ukuran dunia, ukuran yang bisa dilihat secara kasat mata di dunia! Padahal kita tahu, semua yang bernyawa akan merasakan mati. Kalau sudah mati, berhenti semuanya. Dunia memang begitu menggiurkan dan menggoda sampai-sampai kita lupa kalau kita akan mati. Padahal kematian itu bisa datang kepada kita kapan saja. Datangnya kematian bisa secepat kedipan mata. Dan peringatan dari Allah pun sudah sangat jelas.
”Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (QS. al A’raf:34)

Ingat mati, merupakan salah satu terapi yang baik buat kita agar bisa berfikir dan bertindak yang terbaik buat hari esok (akhirat). Bayangkan kalau kita akan bershodaqoh, dan yang ada dalam pikiran kita, ini adalah shodaqoh terakhir (karena kita akan segera mati), tentu kita tidak akan bershodaqah asal recehan saja. Bayangkan bila kita melakukan sholat dan itu merupakan kesempatan sholat yang terakhir yang bisa kita lakukan, tentu kita akan sholat dengan sangat-sangat khusyu dan sepenuh jiwa raga. Pada saat kita sadar ini kesempatan terakhir untuk berdoa kepada Allah, tentu doa kita akan khusyu dan permintaan-permintaan kita tentu tidak sekedar permintaan untuk kesenangan dunia, pasti lebih dari itu. Dan seterusnya, banyak lagi hal yang luar biasa bisa kita kerjakan. Inilah mungkin hikmah yang diharapkan untuk dipahami oleh umatnya ketika Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ” Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan, yaitu kematian”

Penghayatan dan kesadaran yang baik serta terus menerus akan datangnya kematian pada diri kita, tentu akan menumbuhkan semangat belajar, beramal dan berdakwah dalam upaya memanfaatkan sisa hidup di dunia ini. Sayang rasanya untuk leyeh-leyeh walau sedetikpun. Karena telah tumbuh suatu semangat, apapun yang terjadi, ujung-ujungnya kita pasti mati dan menghadap Allah Subhanahu wata’ala. Dengan pola ini (menggedor kesadaran akan mati), Insya Allah, kita jadi benar-benar memerlukan Islam dengan semua elemen di dalamnya. Kita akan mencari dan mempelajari cara untuk menyelamatkan kita dari kehidupan setelah mati kita. Dan sejatinya, kita akan mendapat jawaban bahwa ternyata hanya Al Islam lah yang memberikan suatu pedoman dan pengetahuan yang komprehensif bagaimana menghabiskan sisa waktu hidup di dunia dengan nikmat, tetapi diridhoi oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagai Penguasa Tunggal seluruh langit dan bumi. Sehingga, kita punya semangat dan antusias yang tinggi, bahwa setelah hidup di dunia ini berakhir, kita akan menyongsong kehidupan akhirat yang durasinya abadi tetapi dengan kualitas kehidupan yang sangat-sangat lebih baik dibanding ketika hidup di dunia. Islam akan kita pandang sebagai suatu way of life yang sebenar-benarnya. Islam adalah fitrah manusia.

Mempelajari Islam dengan semangat seperti itu, Insya Allah akan memberikan out put yang berbeda. Kalimat 2 syahadat begitu menghujam dalam hati kita. Tidak ada lagi praktek-praktek ibadah yang nyeleneh, berbau musyrik dan syirik. Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wata’ala. Ibadah mahdhoh dilakukan dengan kualitas yang prima dan sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam. Al Qur’an benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya, sebagai pedoman hidup di dunia. Al Qur’an menjadi akhlak bagi setiap hati umat muslim. Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, begitu dipatuhi dan memberi semangat serta dijadikan panduan teknis dalam berkiprah di dunia. Masjid akan menjadi pusat peradaban dan pusat pergerakan umat Islam. Umat Islam bersatu dalam kalimat Tauhid. Tentu ”umat Islam” tidak akan dilecehkan. Umat Islam akan memimpin peradapan dunia. Insya Allah
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan” (ar Rahmaan:13)

Terlihat dan terkesan mulukkah apa yang saya paparkan di atas?
Masih jauhkah era itu akan menjadi kenyataan?
S T O P & T H I N K !
Wuallahu a’lam bishawab.

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Aplikatif dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s