Apa itu Bid’ah…

1. Pengertian Bid’ah Secara Bahasa
Secara bahasa bid’ah itu berasal dari ba-da-‘a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. Dan kata “bid’ah” maknanya adalah baru atau sesuatu yang menjadi tambahan dari agama ini setelah disempurnakan.

2. Pengertian Bid’ah Secara Istilah dan Perbedaan Pandangan
Secara istilah, bid’ah itu didefinisikan oleh para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid’ah itu memang berbeda-beda. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui), sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya.
Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid’ah. Yaitu kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. Dan kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat.

Sebagian ulama juga ada yang membuat klasifikasi yang sedikit berbeda, oleh para ulama membedakan bid’ah terbagi dua :
a. Bidah dalam adat kebiasaan (di luar masalah agama) seperti banyaknya penemuan-penemuan baru di bidang tekhnologi, hal tersebut dibolehkan karena asal dalam adat adalah kebolehan (al-ibahah)
b. Bid’ah dalam agama, mengada-ngada hal yang baru dalam agama. Hukumnya haram, karena asala dalam beragama adalah at-tauqief (menunggu dalil). Rasulullah SAW bersabd, “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak.” (HR Muslim 1817)

Penjelasan di atas berlandas kepoada kaidah ushul berbunyi, ‘al-ashlu fil ibaadati at-tahriim’, asal dari segala tata cara ibadah adalah haram Berbeda dengan urusan selain ibadah, kaidah ushul berbunyi, ‘wal ashlu lighairiha al-ibaahah’, adapun asal untuk selain ta’abudiyah adalah boleh. Seperti tentang status makanan itu halal, selagi tidak ada dalil yang menyebutkan keharamannya

Sesuatu yang diada-adakan oleh manusia dalam urusan agaman dibedakan dalam dua hal yaitu yang berkaitan dengan aqidah dan yang berkaitan dengan amalan.
Baik bid’ah yang berkaitan dengan aqidah yang dinamakan dengan bid’ah ucapan, maupun bid’ah yang berkaitan dengan amalan. Bid’ah-bid’ah ini merupakan salah satu jenis perkara yang diharamkan tetapi berbeda dengan kemaksiatan yang biasa. Sesungguhnya pelaku bid’ah ini mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan bid’ah-bid’ah tersebut, dan berkeyakinan bahwa dengan bid’ahnya itu dia telah melakukan ketaatan terhadap Allah dan beribadah kepada-Nya. Dan inilah yang paling membahayakan.

Bid’ah itu sendiri bisa berupa keyakinan yang bertentangan dengan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw dan ajaran yang terdapat di dalam Kitab Allah. Dan bid’ah untuk jenis ini kita sebut dengan bid’ah dalam aqidah (al-bid’ah al-i’tiqadiyyah) atau bid’ah dalam ucapan (al-bid’ah al-qawliyyah); yang sumbernya ialah mengatakan sesuatu tentang Allah yang tidak didasari dengan ilmu pengetahuan. Perkara ini termasuk salah satu perkara haram yang sangat besar. Bahkan Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa perkara ini merupakan perkara haram yang paling besar. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alas an yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.'” ( QS al-A’raf : 33)

Termasuk dalam hal ini ialah perbuatan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, tanpa dasar yang jelas; sebagaimana difirmankan oleh-Nya:

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan oleh Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.’ Katakanlah: ‘Apakah Allah t elah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?'” (QS Yunus : 59)

Selain itu, juga perbuatan yang dimaksudkan untuk beribadah kepada Allah tetapi tidak disyariahkan dalam ajaran agama-Nya, seperti mengadakan upacara-upacara keagamaan yang tidak diajarkan oleh agama.

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariahkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan oleh Allah?…” (QS as-Syura : 21)

Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Jauhilah, hal-hal baru dalam urusan agama, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah kesesatan.”

“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami, dan ia tidak ada dalam ajaran kami, maka sesuatu itu tidak diterima.”

• Mengingakari Bid’ah dan Memeranginya adalah Langkah untuk Memelihara Kemurnian Islam
Karena semua hal tadi maka mengingkari bid’ah dan perbuatan bid’ah adalah tindakan yang dapat menjaga kemurnia Islam hingga saat ini sehingga Islam tidak mengalami distorsi dan adisi seperti yang dialami oleh agama-agama lain.
Benar di kalangan kaum muslimin terjadi banyak perbuatan bid’ah dan pihak-pihak yang mencitakan bid’ah, yaitu orang-orang yang jahil yang tidak mempunyai ilmu agama dan memberikan pengajaran agama dengan tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan, namun di sepanjang masa selalu timbul tokoh dikalangan umat Islam yang memperbarui agama mereka ( –Dari Abu Hurairah r.a. ia meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersada, “Allah akan mengutus bagi umat ini pada setiap awal seratus tahun seorang yang akan memperbaruhi agamanya.” Diriwayatkan oleh Abu Daud, al-Hakim al-Baihaqi dan selainnya, serta di sahikan oleh al-Iraqi dan as-Suyuthi.

Yang dimaksud dengan pembaruan agama seperti disinyalir dalam hadits itu, adalah pembaruan pemahaman terhadapnya, serta keimanan dan beramal denganya. Dr. Yusuf Qardhawi telah menjelaskan panjang lebar tentang hadits ini dalam bukunya Min Ajli Shahwahtin Raasyidah, Tujaddiduddiin Wa Tanhadhu bid-Dunya, hlm 9-36, al-Maktab al-Islami, Bairut; diterjemahkam kedalam bahasa indonesia dengan judul membangun masyarakat Baru, Gema Insani Press, 1997. — )
Selalu ada tokoh-tokoh yang menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah.( –Ibnu Jarir, tammam dalam fawa’id-nya, Ibnu Adi dan lainya meriwayatkan dari Nabi saw. hadits, “Ilmu ini akan dijunjung oleh orang yang mencermati musuh kecendrunganya (pembuat bid’ah). Ia akan melenyapkan penyelewengan orang-orang yang melakukan kesesatan dalam agama, kecendrungan orang-orang yang membuat kebatilan, dan takwil orang-orang yang bodoh. Lihat Syarah-nya dalam al-Madkhal li Dirasat as-Sunnah an-Nabawiyah, Dr. Yusuf al-Qardhawi, hlm. 95-98. — )
Sehingga, setidaknya, sunnah Rasulullah saw. tetap dapat di ketahui dengan jelas dan umat ini tidak sampai bersepakat dalam kesesatan, ( –Diriwayatkan dari Ibnu Umar Rasulullah saw. bersabda, “Allah SWT tidak akan mengumpulkan umatku-atau umat Muhammad saw.-dalam kesesatan. “Tangan’ Allah bersama jamaah. Siapa yang menyepal dari jamaah maka ia menyepal dari mereka ke dalam neraka. “diriwayatkan oleh Tirmizdi dan ia menilanya sebagai hadits gharib , serta diriwayatkan oleh al-Hakim dengan redaksi sejenis. Lihat ash-shahwah al-Islamiah, binal al-Masyru’ wa at-Tafarruq al-Madznum, Dr.Yusuf al-Qardhawi, hlm, 25 Muassasah ar-Risalah, Bairut. — ) atau mengakui bid’ah, atau perbuatan bid’ah itu berubah menjadi bagian agama Islam.
Pengingkaran bid’ah itulah yang menjaga rukum-rukun pokok Islam. Bilangan kewajiban Shalat tetap terjaga sebanyak lima waktu hingga saat ini, berikut ketentuan waktu dan aturan pelaksanaanya. Pelaksanaan ibadah puasa tidak dipindahkan dari bulan Ramadhan, tidak seperti yang dilakukan oleh Ahli kitab yang memindahkan waktu pelaksanaan puasa mereka. Dan, waktunya pun tetap dari fajar hingga tenggelamnya matahari. Tata laksana ibadah haji juga seperti itu. Demikian juga aturan zakat tetap seperti sediakala. Pokok-pokok utama Islam tetap terjaga keautentiknya, meskipun terlah terjadi banyak bid’ah dan beragam pinyimpangan pemikiran di sepenjang masa.
Yang menjaga semua hal tadi adalah prinsip ini, yaitu bid’ah merupakan perbuatan yang tertolak dalam pandangan Islam. Dengan demikian, Islam adalah agama yang agung dan logis, sesuai dengan alur postulat logika yang benar.

Wallohu a’lamu.
(dikutip dari Ta’lim, Ustadz Mulyadi, Bekasi)

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Sebaiknya anda tahu dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s