Kebahagiaan…

Bismillahirohmanirohim…

Bicara mengenai bahagia, ini seperti topik usang yang masih terus hangat untuk diperbincangkan. Siapa sih orang yang tidak ingin bahagia? Sepertinya semua orang berlomba-lomba untuk merasa bahagia. Semua orang inginnya kebahagiaan selalu menghiasi setiap detik kehidupannya. Padahalkan sunnatullahnya tidak seperti itu. Ada bahagia, ya pasti ada kesedihan.

Apa sih sebenarnya indikator kebahagiaan itu?…saya pernah coba-coba membuat daftarnya:

1. perasaan selalu senang setiap saat! (kayaknya ini gak mungkin)

2. Harta melimpah, punya aset yang aman dan kuat….(mungkin saja, tapi kan sudah terbukti bahwa kebahagiaan ternyata tidak bisa dibeli dengan harta ataupun aset yang melimpah ruah)…setelah saya pikir-pikir, sebenarnya kesedihan pun sama saja. Kesedihan tidak bisa digantikan dengan harta dan aset yang buanyak.

3. Kesehatan prima dan gak pernah sakit…(ah, ini juga sepertinya impossible)

4. kebutuhannya terpenuhi (tapi, kebutuhan manusia kan terus bertambah dan kalau tidak “tertarbiyah jiwanya” kebutuhan manusia itu menjadi seolah-olah tanpa batas…Jadi indikator ini juga agak nyeleh)

5. Keluarga bahagia…(aha,…ini masih sangat mungkin untuk dijadikan indikator kebahagiaan seseorang. Tapi perlu dirinci lagi, apa definisi keluarga bahagia itu)

6. Punya kemampuan menyelesaikan masalah (hmmm,…dimensi masalah bisa variatif sekali,..jadi indikator kebahagiaan yang ini masih ngambang)

7. Hidupnya mendapat ridho Allah Swt….(ini benar, tapi apa indikatornya bahwa hidup seseorang di dunia diridhoi Allah Swt?…apakah orang yang diridhoi Allah Swt tidak mendapat cobaan yang membuat kebahagiaannya terganggu?..kalo belajar dari sejarah hidup Rosulullah Saw, beliau selalu diuji dengan berbagai cobaan yang luar biasa berat dan pastinya Beliau Saw adalah manusia paling mulia yang diridhoi Allah Swt.
…terus apalagi yah indikator kebahagiaan itu?

Pertanyaan berikutnya, kebahagiaan itu apa sih? Apakah ia hanya melulu berupa perasaan hati yang senang dan tidak ada rasa sedih?

Rosulullah Saw bersabda, “Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan cobaan dia bersabar. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Definisi dari Rosulullah Saw, memberi jawaban jelas. Bahwa, kebahagiaan itu bukan berarti bebas dari ujian dan kesedihan. Tapi, respon seseorang terhadap ujian atau cobaan atau musibah itulah yang penting dan menentukan perasahaan hati (kebahagiaan) seseorang.

Ustad Yusuf Qardhawi mengatakan, “orang yang hidup bahagia adalah orang yang memilih jalan kebenaran setelah melihat kebenaran itu”,…hmm, dan kebenaran mutlak adalah Al Qur’an dan As Sunnah Rosulullah Saw.

Atau, mungkin bagus sekali kalau kita mengaplikasikan resep kebahagiaan yang disampaikan oleh Ibnu Abbas, ra.:

1. Kita harus memiliki hati yang selalu bersyukur pada Allah Swt. Selalu berdoa dan memohon pertolongan Allah Swt, untuk mampu bersyukur apapun kondisi kita. Nah, Insya Allah, ini resep jitu. Bahasa motivatornya disebut dengan possitive thinking.. Masih terlalu banyak hal positif dan karunia Allah Swt yang belum disyukuri dibandingkan dengan apapun “ujian atau cobaan” yang kita hadapi.

2. Memiliki pasangan hidup yang sholeh/sholeha….Ini juga resep jitu. Keluarga adalah bagian terdekat dari kehidupan kita. Dan saya yakin, untuk mendapatkan pasangan yang sholeh/sholeha, maka kita sendiri terlebih dahulu yang harus Sholeh/Sholeha. Allah Swt telah menyatakan dalam Al Qur’an bahwa perempuan/laki-laki baik-baik untuk laki-laki/perembuan baik-baik dan perempuan/laki-laki keji untuk laki-laki/perempuan keji (QS. 24:26). Firman Allah Swt pasti benar!

3. Memiliki anak-anak yang sholeh dan sholeha…persis seperti resep ke.2, hal ini juga jitu sekali. Anak-anak bisa menjadi fitnah (cobaan) atau sumber kebaikan bagi orang tuanya. Ingin punya anak-anak yang sholeh dan sholeha, Mohon pada Allah Swt dan orang tuanya harus sholeh dan sholeha terlebih dahulu. Anak-anak perlu figur dan contoh kehidupan yang nyata dan bisa diajak berinteraksi. Siapa lagi kalau bukan orang tuanya! Orang tua islami, Insya Allah anak-anaknya sholeh dan sholeha dan memberi kebahagiaan.

4. Semua bersumber dari harta yang halal! Hmmm,..ini perlu perhatian serius. Bagaimana mungkin kita bisa menyediakan air minum buat keluarga yang jernih, bersih dan sehat kalau sumber airnya kita ambil dari air buangan sampah (air comberan) dan langsung memasaknya untuk diminum. Yang Halal dan haram itu sudah jelas! Bahkan untuk menjamin kemurnian sesuatu, Rosullullah Saw menyuruh kita untuk meninggalkan hal-hal yang subhat (berada di area abu-abu). Begitu mulianya Beliau Saw. Semoga Shalawat dan Salam selalu tercuruh untuk Rosulullah Saw, keluarga, para sahabat dan kita umatnya yang terus berupaya keras untuk meneladani beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Wuallahu’alam bishowab…

Budi Purnomo.

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Aplikatif, Inspiratif, Sebaiknya anda tahu dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s