Kamu Siapa?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sadar atau tidak sadar. Mau atau tidak mau. Kita pasti mempunyai lebih dari satu peran menjalani kehidupan ini. Tetapi, kita sering terjebak. seandainya ditanya, siapa kamu? jawaban otomatis yang keluar dari mulut kita biasanya, terkait dengan cara kita mendapatkan penghasilan/pekerjaan kita. “saya seorang pekerja”, “saya seorang programmer”, “saya direktur di PT.X”. “saya mahasiswa”. “saya seorang ustadz”.”saya olahragawan”. “saya pemusik atau seniman”.

Apakah hanya itu, diri kita?. apakah hanya status pekerjaan/penghasilan yang menjadi atribut siapa kita? apakah kita hanya punya peran tunggal ketika ditanya “siapa kamu?”. Kalau untuk mempersingkat status mungkin, sah-sah saja jawaban singkat seperti di atas. Tetapi, takutnya. Jawaban singkat siapa kita itu yang melekat dan menjadi fokus dalam kehidupan dunia kita. Padahal sunnatullahnya,….kita mempunyai banyak peran. Kita punya banyak jawaban kalau ditanya “siapa kamu?”. Dan kita dihisabpun, bukan karena satu peran kita ketika menjalani hidup di dunia.

Mari kita renungi, apa saja peran kita selama ini, disamping “status pemberi penghasilan” seperti yang sudah disebut di atas.

Saya pernah dengan sengaja membuat daftar, apa saja peran saya? Subhanallah, ternyata cukup banyak! dalam satu hari saja, saya dapat berperan sebagai: suami, ayah, muslim, menantu, paman, sepupu, teman, tetangga, imam, makmum, murid, guru/trainer, konsultan, pemilik usaha, pengendara mobil/motor/sepeda, pejalan kaki, pembeli, penjual, pemelihara binatang, pengurus yayasan,  penulis blog, pengamat, penonton, donatur, motivator, pendengar, pembaca,  fotografer, pekebun, relawan dan lainnya.

Setiap menjalani peran tersebut, pastinya dituntut atribut dan kinerja terbaik. Karena, itulah tuntutan Allah Swt kepada kita, agar menjadi umat terbaik. Nah, dengan beragamnya peran kita, harusnya itu benar-benar kita sadari dan syukuri. Semakin banyak peran akan memberikan banyak peluang untuk dapat menabung kebaikan. Kalau kita klaim diri kita hanya sebagai “manager”, terlalu sedikit potensi kebaikan yang bisa kita kumpulkan! Tetapi, kalau kita menyadari bahwa kita bukan hanya seorang manager, tetapi punya beragam peran lain yang tidak kalah penting. Harusnya, itu memicu kita! bahwa masih banyak pekerjaan rumah, perbaikan dan potensi berbuat baik dari peran-peran kita setiap harinya.

Ketika kita menjadi seorang ayah, jadilah ayah terbaik. Ketika menjadi pengemudi motor/mobil, jadi pengemudi yang terbaik yang tidak membahayakan orang lain. Ketika menjadi murid, jadilah murid terbaik. Ketika menjadi pembeli, jadilah pembeli yang baik.

Jadi benarlah, bahwa segala kegiatan kita adalah ibadah, apabila itu dengan sengaja kita niatkan dan jalani dengan kinerja terbaik serta dengan kesadaran penuh untuk kebaikan dan mengharap ridho Allah Swt.

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada Ku” (QS Adz Dzariyaat (51) : 56).

Huallahu a’lam bishowab..

Wassalamualaikumwarahmatullahi wabarakatuh.

Budi Purnomo

 

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s