Skala Prioritas…

Bismillahirahmanirohim….

Siapapun kita, setiap detik dalam hidup ini selalu dihadapi pilihan-pilihan untuk mengambil keputusan. Apapun keputusan yang kita ambil biasanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan serta skala prioritasnya. Nah, mengenai skala prioritas ini, kadang-kadang kita dibingungkan. Banyak sekali tarik menarik parameter dalam mengambil keputusan, mana yang diprioritaskan?. Merujuk pada buku “Fiqih Prioritas” yang ditulis oleh Ustadz Yusuf Qordhawi. Berikut, saya kutip beberapa hal penting dari buku Beliau.Insya Allah apa yang beliau tulis bermanfaat buat kita semua.

Beberapa pertimbangan penting dalam menentukan prioritas:

1. Dahulukan kualitas dan jenis urusan dibanding kuantitas dan volumenya. Artinya, percuma saja melakukan banyak hal kalau tidak berakal, tidak berilmu, tidak beriman dan tidak bersyukur. Jumlah yang banyak kadang malah membuat terlena. Umat Islam di Indonesia memang mayoritas, tetapi bagaimana dengan kualitasnya? Mari kita berlomba untuk perbanyaklah umat Islam yang Sholeh, akidah dan keimanannya benar dan amalannya terbaik, karena dilandasi oleh “tauhid” dan sesuai sunnah Rosulullah Saw.

2. Ilmu di atas amal….beramal rajin tapi tidak dilandasi ilmu, sangat berbahaya. Tetapi berilmu banyak tidak beramal ini lebih berbahaya lagi. Jadi mengapa tidak ambil jalan terbaik…Bersemangan dan rajin beramal dan dilandasi ilmu yang shoheh.

3. Pemahaman di atas hapalan. Pemahaman menuntut lebih dari sekedar belajar. Pemahaman melalui proses mencerna, mengaplikasikan dan mengajarkan. Kalau hapalan hanya “show off” (untuk ditunjukkan) dan untuk diajarkan.

4. Maksud dan tujuan di atas penampilan luarnya. Sibuk dipermukaan, senang ritual perayaan, syariat yang mudah menjadi sulit dan cenderung ke arah taklid. Mari belajar dan terus belajar, pelajari dan ajarkan….Masih banyak sekali firman-firman Allah dalam Al Qur’an yang belum terbaca, terpahami dan teraplikasikan oleh kita.

5. Ijtihad di atas taqlid. Dasar syariat adalah Al Qur’an, sunnah Rosulullah bukan dari kebiasaan nenek moyang. Jangan terjebak oleh adat istiadat, kebudayaan nenek moyang dan kebiasaan yang dapat membuat syrik-syrik kecil (apalagi menjadi syirik besar). Mengaku umat Rosulullah Saw, tetapi tidak mau belajar dan mengikuti sunnah-sunnah Beliau Saw.

6. Prioritaskan pendidikan dan perencaaan pada urusan dunia. Tanpa belajar dengan baik dan benar, sulit rasanya memperoleh ilmu dan bekerja/beramal dengan baik dan benar pula. Siroh Rasulullah Saw, mengajarkan kita mengenai pentingnya perencanaan dalam melakukan sesuatu. Slogan “Gimana nanti”…bukan dari Islam.

Demikian, Insya Allah bermanfaat.

Wassalam,

Budi Purnomo

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Aplikatif, Inspiratif dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s