NIKMAT vs BENCANA

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Sunnatullahnya, kehidupan kita memang selalu bergilir setiap waktunya. Ada waktu sedih, ada waktu datar dan ada waktu senang. Ada lapang-ada sempit. Ada waktu bahagia-ada waktu galau. Lucunya walaupun kita menyadari perputaran hidup itu, tetap saja. Kadang kita tidak mampu berpikir jernih ketika kebahagiaan atau kegalauan datang. 

Ketika keberhasilan datang dan itu membuat kita bahagia. Kadang kita menjadi ujub. Kata alhamdulillah memang terucap. Tetapi, masing banyak ruang dihati yang diisi dengan kebanggaan, seolah-olah keberhasilan tersebut adalah “murni” hasil jerih payah kita (atau tim) sendiri. Dengan berjuta pembelaan tentunya. “Kerja keras kita terbayar sudah”.

Ketika kegagalan, kebangkrutan, kesialan atau hambatan datang yang dikarenakan berbagai penyebab. Kalau tidak hati-hati, reaksi kita pun tetap berlebihan. Walaupun tidak sampai tingkatan putus asa, tetapi hal tersebut membuat kita galau. Susah untuk berpikir jernih, apalagi mengeluarkan “hormon” sabar. Kepanikan melanda, hari esok terasa samar-samar. Bahkan kadang, dengan sengaja memposisikan diri sebagai orang yang kalah. 

” Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpa mu, maka itu dari (kesalahan) diri mu sendiri…..” QS An-Nisa:79.

Doktrin dari Allah ini, sudah saklek dan mudah dipahami. Bahwa segala kebaikan dan nikmat yang kita terima hanya apabila ada pertolongan dari Allah Swt. Tidak ada peluang untuk ditambah dengan, tetapi …tetapi…… . Coba secara serius dipikirkan lagi keberhasilan anda (dalam bidang apapun). Mungkinkah itu akan berhasil kalau Allah tidak menurunkan kebaikan pada kita? Saya berhasil closing penjualan, pada klien yang keras kepala. Setelah saya pikir-pikir lagi, bukan karena, hebatnya saya melakukan presentasi penjualan dan follow up. Tetapi, karena Allah membukan hati orang tersebut untuk menerima tawaran saya. Buktinya, saya melakukan upaya dan kerja keras yang sama, tetapi pada calon pelanggan yang bahkan ia temen dekat saya pun…kalau Allah tidak bukakan hatinya,,,tetap saja, dia menolak (walaupun dengan cara yang halus).

Begitu juga dengan kegagalan yang terjadi. Silahkan kita pikir-pikir lagi. Ternyata benar, penyebabnya karena “kesalahan” yang kita perbuat. Kadang, karena persiapan yang tidak saya susun rapi. Presentasi penjualan jadi berantakan, dan saya panik karena tidak mampu untuk memberikan jawaban yang sesuai keinginan calon klien. walhasil, proyek gagal.

Pemahaman pada doktrin Allah ini, sejatinya menyadarkan kita bahwa “siapapun kita apapun posisi dan status sosial kita”. Kita hanya manusia yang sangat-sangat-sangat keciiiiiil di hadapan Allah. kita hanya 1 dari 5 milyar lebih manusia di seluruh dunia. Kita hanya satu noktah yang sangat kecil dan tidak terlihat dibandingkan besarnya Bumi ini. Kita begitu bergantung pada Allah Sang Raja nya manusia. Kebaikan kita hanya bisa berjalan kalau Allah berkehendak untuk menolong kita. Kalau tidak ditolong Allah, keburukan/bencana/kegagalan yang akan terjadi. ….Itu sunnatullah nya.

Kebenaran hanya dari Allah Swt saja.

Salam,

Budi Purnomo

 

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Aplikatif, Inspiratif dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s