Memberi itu perkara mental

Tulisan ini sama sekali tidak terkait dengan revolusi mental yang digadang-gadang oleh pemerintah yang berkuasa saat ini…hehe

Contoh-contoh karakter “ringan tangan” sudah banyak sekali dipraktekkan oleh Rosulullah saw, dan para sahabatnya yang mulia. Jadi, tidak perlu pakai embel-embel apapun, tidak perlu menggunakan istilah-istilah yang njilmet ala “motivator”.  Memberi..ya memberi. Perlu ditemukan, alasan mengapa kita memberi, praktekkan dan lakukan secara berulang-ulang….itu saja.

Suatu hari Rasulullah kedatangan seorang musafir yang tampak sangat kepayahan. Tampaknya ia memang sudah melakukan perjalanan yang jauh melelahkan. Tak tega, melihat sang musafir. Spontan Rasullullah meminta salah seorang sahabatnya, untuk mendatangi rumah istri-istri nya guna meminta makanan. Tetapi ternyata, tidak ada makanan sedikitpun yang bisa disajikan oleh istri-istri beliau untuk musafir tersebut.

“Wahai sahabat-sahabat ku. Siapa diantara kalian yang berkenan menjamu tamuku ini, malam ini?”.

Seorang sahabat Anshar menjawab dengan antusias, “saya siap ya Rasulullah”.

Maka diajaknya sang musafir ke rumahnya. Setibanya di halaman rumahnya yang sangat sederhana. Ia meminta sang tamu untuk menunggu sejenak. Ia lalu masuk ke dalam rumah dan menemui istrinya. “Ada makanan apa malam ini, istriku?”. “wahai suamiku, demi Allah, kita hanya punya beberapa potong roti yang akan ku berikan untuk anak kita”, sahut sang Istri dengan lembut.  Sang suami terdiam dan berpikir sejenak. Lalu dengan lemah lembut dia ceritakan apa yang terjadi dan niatannya untuk menjamu tamunya Rasulullah itu. Lalu, ia meminta istrinya untuk menidurkan anaknya.

Lampu rumah dibuat seolah-olah rusak dan mati. Di tengah suasana yang gelap gulita tersebut, ia menjamu sang musafir dengan roti yang sedikit itu. Ia ikut menemani tamunya menikmati makan malamnya. Hanya saja, ia hanya berpura-pura mengunyah makanan di piring kosong yang dia pegang, agar sang tamu tidak sungkan menikmati makanan yang memang hanya cukup untuk satu orang saja.

Keesokan harinya. Rasulullah tersenyum dan berkata. “Tadi malam Allah tertawa, Dia takjub dengan apa yang kamu dan istrimu lakukan”. ….Turunlah ayat 9 surah al Haysr..”dan mereka mengutamakan orang lain dari pada dirinya sendiri (padahal mereka juga memerlukannya)…”

Masyaa Allaah…bukankan ini pelajaran yang luar biasa.

Bukankan ini membuktikan bahwa “memberi itu adalah perkara mental”. Memberi tidak ada hubungannya dengan kekayaan atau kemiskinan atau status sosial. Tidak ada jaminan orang kaya atau apabila kita berlebihan akan dengan ringan tangan memberi…..

Allahu a’lam bishowab.

Budi Purnomo

Tentang Budi

Moslem, Consultant, Trainer, Photographer, Gardener and Traveler.
Pos ini dipublikasikan di Aplikatif, Inspiratif dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s